Yunani penyebab krisis global ?

14 05 2010

Salah satu penyebab krisis keuangan global ternyata seorang wanita berkebangsaan Indonesia, dia akrab di panggil “Yu Nani”, mungkin dia berasal dari suku Jawa sehingga di panggil Yu. Yu mariiii.. :P

Krisis Yunani Guncang Bursa New York

New York (ANTARA News) – Pasar sahan tersungkur pada perdagangan Kamis (Jumat dini hari WIB), di mana indeks acuan Dow Jones Industrial Average (DJIA) sempat ambruk hampir 1.000 poin untuk kemudian amblas di bawah level 10.000 setelah para pelaku pasar panik dengan melakukan aksi lepas saham besar-besaran pada hampir semua jenis saham.

Dalam kurun satu jam, pasar kemudian pulih secara perlahan namun indeks DJIA tetap turun lebih dari 400 poin.

Aksi lepas saham besar-besaran terjadi menyusul ketakutan yang berketerusan mengenai berlanjutnya krisis utang Yunani, namun para analis berharap ada koreksi teknikal untuk membalikan kecenderungan pasar ini.

DJIA jatuh sekitar 8,5 persen, untuk menyentuh poin terendah 9.875. Ketika panik mereda, DJIA seketika naik lagi secepat ketika jatuh ke level 10.000.

Pada sore hari waktu New York, DJIA naik lagi ke level 10.461,07, masih turun 407,05 poin (3,75 persen) dibandingkan penutupan sebelumnya, sedangkan Nasdaq turun 79,93 poin di level 2.322,36. Hal sama terjadi pada Indeks Standard & Poors 500 yang turun 41,90 poin ke posisi 1,124.

Penurunan terjadi setelah pasar saham AS dibuka bertahan cenderung stagnan akibat pengaruh menanti gambaran angkatan kerja dan produktivitas ekonomi AS.

Indeks perlahan bergerak turun, namun DJIA turun perlahan hingga 100 poin sepanjang perdagangan sore itu (Jumat dini hari WIB).

Keprihatian atas krisis utang Yunani yang memperburuk sentimen pasar sepanjang minggu ini, makin menekan DJIA hingga terperosok tiga digit pada perdagangan Selasa lalu.

Namun investor mengambil posisi “wait and see” di perdagangan Kamis waktu AS ini menunggu gambaran data pengangguran AS yang akan dirilis akhir pekan ini sebelum mereka kemudian memastikan posisi transaksinya.

Sikap “wait and see” ini berlangsung hingga pukul 18.30 GMT (01.30 WIB), ketika aksi lepas saham besar-besaran mulai terjadi.

Dalam 15 menit transaksi, DJIA tenggelam di level yang tidak pernah terjadi sejak krisis keuangan AS lalu, manakala para pemodal mencampakkan saham-saham dengan menukarnya ke obligasi.

Laju penurunan saham yang demikian cepat ini membersitkan pertanyaan mengenai kemungkinan ada arus pembalikan teknikal.

“Kami tak tahu, saat ini kami mencermati hal itu. Semua ini spekulasi,” kata Juru Bicara Bursa Efek Ne York (NYSE) Christian Braakman.

Baru-baru ini juru bicara IMF telah mencoba meredakan panik pasar akibat Krisis Utang Yunani dengan mengatakan “default” (gagal bayar) kepada Yunani bukan opsi yang baik.

“Default tidak menjadi pilihan, dan tidak pernah menjadi pilihan,” kata Direktur Hubungan Eksternal IMF Caroline Atkinson.

“Pihak berwenang Yunani sendiri berulangkali menegaskan itu,” kata Atkinson seraya menambahkan bahwa Presiden Bank Sentral Eropa Jean-Claude Trichet juga menyatakan “default” utang Yunani adalah di luar pembahasan solusi masalah. (*)

AFP/Jafar

Sumber : http://www.antaranews.com/berita/1273176756/krisis-yunani-guncang-bursa-new-york





Manajemen Sedikit

12 12 2007

Mas Bambang, seorang veteran bisnis yang telah bergelut dalam dunia bisnis lebih dari 40 tahun punya resep yang unik, dia beliau menyebutnya: “Manajemen Sedikit”. Secara prinsip Mas Bambang mengaku dia lebih senang berbuat sedikit mungkin, terutama dalam mencampuri urusan manajemen di kantor.

Mas Bambang berdalih Manajemen Sedikit ibaratnya memasak dengan oven microwave. Tingal pencet satu tombol. Selesai. Berlainan dengan gaya manajemen yang biasa, menurut Mas Bambang, lebih mirip dengan memasak cara tradisional. Butuh waktu dan usaha komplit yang lebih njelimet.

Mulanya saya bingung mendengarnya. Barulah ketika ngobrol lebih dalam dengan para crew dan staff di kantor Mas Bambang, saya baru mengerti apa yang dimaksudkan oleh Mas Bambang sebagai Manajemen Sedikit. Rupanya Mas Bambang orangnya sangat penyabar, jarang marah, dan senang memotivasi para pekerjanya untuk maju ke depan, secara agresif dan kreatif.

Setiap kali mereka memulai sebuah proyek, Mas Bambang lebih senang menyemai bibit. Begitu istilah beliau. Setelah itu Mas Bambang lebih senang mundur ke belakang dan sepenuhnya memberikan kebebasan bagi karyawannya untuk menunjukan karya dan prestasi mereka.

Hanya sekali-kali Mas Bambang memberikan dorongan kecil. Pokoknya Mas Bambang berusaha untuk sedikit mungkin mencampuri manajemen. Hasilnya memang ajaib.

Karyawan merasa mendapatkan kepercayaan penuh dari Mas Bambang, dan disiplin mereka untuk bertanggung jawab ternyata sangat tinggi. Mereka juga punya rasa optimisme dan percaya diri yang optimal. Saya jadi ingat sebuah buku kecil yang ditulis oleh Chin Ning Chu yang berjudul “Do Less Achieve More”. Buku yang ditulis pada 1998 itu, hingga kini masih menjadi salah satu buku favorit saya.

Chin menulis bahwa, kata sibuk dalam bahasa Cina terdiri dari dua simbol piktogram. Yang pertama merupakan simbol piktogram yang berarti jantung. Dan yang kedua adalah piktogram dengan simbol kematian. Artinya kalau kita terlampau sibuk tidak keruan, maka kematian adalah kutukan yang membayangi kita sehari-hari.

Mas Bambang bercerita bahwa dahulu dia pernah memiliki seorang general manajer yang sangat rajin, tetapi juga terlampau ketat ingin mengontrol semuanya. Akibatnya seluruh stafnya merasa stress. Produktivitas bukan meningkat tetapi justru semakin menurun. Mas Bambang akhirnya memecat sang general manajer.

Dia memerdekakan para staf dan karyawannya dari perasaan stress dan tertekan. Mas Bambang berusaha menciptakan sebuah lingkungan kerja yang memiliki dimensi unik, di mana semuanya merasa mudah, sehingga staf dan karyawannya lebih kreatif menciptakan terobosan dan inovasi.

Beberapa hari sebelum puasa, saya diajak Mpu Peniti makan soto daging kesukaan beliau. Pulang makan soto, saya diberi oleh-oleh dua lembar uang seribuan. Yang satu pecahan seribuan yang mungkin beredar pada 1970-an dan sudah tidak lagi laku. Yang kedua pecahan seribuan yang masih beredar saat ini. Kedua lembar uang seribuan itu nampak sangat baru, seperti baru keluar dari mesin cetak.

Saya bingung tidak keruan, karena tidak mengerti apa ulah Mpu Peniti. Akhirnya dengan senyum-senyum beliau bertanya kepada saya, mana di antaranya kedua lembar uang ribuan itu yang paling berharga. Saya beraksi secara refleks menunjuk lembaran uang ribuan yang masih berlaku saat itu. Tetapi Mpu Peniti malah menggeleng.

Beliau bertutur, bahwa lembaran uang ribuan yang sudah tidak berlaku lagi malah justru yang paling berharga. Karena 30 tahun yang lalu, selembar uang ribuan itu merupakan bagian dari kenaikan gaji Mpu Peniti saat itu. Saking girangnya, Mpu Peniti saat itu, sampai ia menyimpan seribu rupiah, yang saat itu sangat banyak jumlahnya sebagai kenang-kenangan. Secara historis uang ribuan itu punya nilai yang tak terhingga.

Berlainan dengan lembaran ribuan satunya lagi, yang memang didapat Mpu Peniti dari bank, dan nilainya memang cuma seribu perak. Dan seribu perak saat ini, terkadang tidak cukup untuk membeli nasi bungkus atau biaya parkir sekalipun.

Mpu Peniti berpesan kepada saya, bahwa kadang yang kelihatannya sangat sedikit sekali nilainya, tidak jarang justru yang paling berharga. Dalam bulan suci Ramadhan ini, di mana kita akan menjalankan ibadah puasa, dan sekaligus berlatih menahan nafsu.

Di saat bersamaan kita juga diberikan kesempatan yang sama untuk menghargai semuanya yang serba sedikit dan semuanya yang serba kekurangan. Kita diingatkan untuk berani mengorbankan yang berlimpah. Dan memilih yang sedikit. Karena sesungguhnya yang sedikit ini, tidak jarang lebih sehat dan lebih membahagiakan kita.

Sumber: Manajemen Sedikit oleh Kafi Kurnia