Kisah Salman Al Farisy

1 03 2010

Oleh Abul Abbas Khadir Al-Limbory

SALMAN AL-FARISY SEBUAH TELADAN BAGI PARA PEMUDA

Pada zaman dahulu ada seorang pemuda yang sangat cerdik dan sangat jeli terhadap suatu perkara, yang sangat perlu bagi kita mengambil ‘ibrah darinya. Dia adalah Salman Al-Farisy. Pada suatu ketika Salman A-Farisy bercerita kepada Ibnu Abbas1, beliau berkata:

Aku adalah orang Persia negara Parsia, dan aku tinggal di suatu tempat yang bernama Asfahan di desa Jayyu Ayahku seorang tokoh di desaku dan aku adalah makhluk Allah yang paling dicintainya. Ia amat mencintaiku sehingga aku dipingit di dalam rumah sebagaimana anak gadis dipingit dalam rumah. Aku ketika itu beragama penyembah api dan aku memiliki tugas khusus menjaga api yang harus senatiasa menyala terus dan tidak boleh padam sesaatpun. Bapakku mempunyai ladang yang sangat luas, pada suatu saat bapakku tersibukkan dengan bangunan, sehinga berkata kepadaku: Anakku pada hari ini aku sibuk dengan bangunan ini hingga tidak mempunyai waktu untuk mengurusi ladangku. Oleh karena itu pergilah kamu ke ladang! Ayahku memerintahkan beberapa hal yang perlu aku kerjakan, kemudian berkata kepadaku: Jangan terlambat pulang kepdaku, engkau lebih berarti bagiku daripada ladangku dan engkau membuatku lupa segala urusan yang ada.

SALMAN TERTARIK DENGAN AGAMA NASRANI

Kemudian aku pergi menuju ladang bapakku seperti diperintahkan bapakku. Dalam perjalanan menuju ladang bapakku, aku melewati salah satu gereja milik orang-orang Nasrani, dan aku dengar suara-suara mereka ketika mereka beribadah di dalamnya. Aku tidak tahu banyak persoalan manusia, karena aku dipingit bapakku di rumah, ketika itu aku mendengar suara-suara mereka, aku masuk kepada mereka untuk melihat dari dekat apa yag mereka kerjakan di dalamnya. Ketika aku melihat mereka aku, aku kagum terhadap ibadah-ibadah mereka dan tertarik kepada kegiatan mereka. Aku berkata demi Allah, agama mereka ini lebih baik dari pada agama yang aku peluk. Demi Allah aku tidak akan tinggalkan mereka sampai matahari terbenam, aku membatalkan pergi ke ladang bapakku, aku berkata kepada mereka (orang-orang Nasrani tersebut): Agama ini berasal dari mana?” Mereka menjawab dari Syam. Setelah itu, aku pulang ke rumah dan ternyata bapakku mencariku, dan aku membuatnya tidak mengerjakan pekerjaannya. Ketika aku telah kembali kebapakku, bapakku berkata kepadaku: Anakku dari mana saja Engkau? Bukankah engkau telah berbuat perjanjian denganku? Aku berkta: Ayah aku tadi berjalan melewati orang-orang yang sedang mengerjakan beribadah di gereja mereka, kemudian aku kagum terhadap agama mereka yang aku lihat. Demi Allah aku berada di tempat mereka hingga matahari terbenam. Bapakku berkata: Anakku tidak ada kebaikan pada agama tersebut. Aku berkata tidak, demi Allah, agama tersebut lebih baik daripada agama kita. Setelah kejadian tersebut bapakku mengkhawatirkanku, ia ikat kakiku dan aku dipingit dalam rumahnya. Aku mengutus seseorang kepada orang-orang Nasrani dan aku katakan kepada mereka, jika ada rombongan dari Syam datang kepada kalian, maka beri kabar kepadaku tentang mereka. Tidak lama setelah itu, datanglah pedagang-pedagang Nasrani dari Syam, kemudian mereka menghubungiku. Aku katakan kepada mereka, jika mereka telah selesai memenuhi hajatnya dan hendak mau pulang ke negeri mereka, maka beri izin kepadaku untuk aku ikut bersama mereka.

SALMAN KABUR DAN BERANGKAT KE SYAM

Ketika para pedagang Nasrani, hendak kembali ke negerinya, orang-orang nasrani segera memberi kabar kepadaku tentang mereka, kemudian aku melepas rantai di kakiku dan aku pergi bersama mereka hingga sampai ke negeri Syam. Setelah tiba di Syam, aku bertanya, siapakah pemeluk agama ini yang paling banyak ilmunya? Mereka menjawab: Uskup di gereja, kemudian aku datang kepada Uskup tersebut dan berkata kepadanya, aku amat tertarik dengan agama ini. Jadi aku ingin bersamamu dan melayanimu di gerejamu dan agar bisa belajar bersamamu dan beribadah bersamamu. Uskup berkata masuklah! Aku pun masuk kepadanya, ternyata Uskup tersebut orang yang jahat. Ia mengajak ummat untuk bersedekah, namun ketika mereka telah mengumpulkan sedekahnya melalui dia, ia simpan untuk dirinya dan tidak menyerahkannya kepada orang-orang fakir miskin, hingga ia berhasil mengumpulkan tujuh peti penuh yang berisikan emas dan perak. Aku sangat marah kepadanya karena perbuatannya tersebut. Tidak lama kemudian Uskup tersebut mati. Orang-orang Nasrani berkumpul untuk mengurus jenazahnya, namun aku katakan kepada mereka: Sungguh orang ini telah berbuat jahat, ia menganjurkan kalian bersedekah, namun ketika kalian menyerahkan sedekah melaluinya, ia malah menyimpannya untuk dirinya sendiri dan tidak membagikannya sedikitpun kepada fikir miskin, mereka berkata: darimana engkau mengetahui ha ini? Aku katakan kepada mereka, mari aku tunjukan tempat penyimpanannya! Aku tunjukan tempat penyimpanan uskup tersebut kepada mereka, kemudian mereka mengeluarkan tujuh peti yang berisi penuh dengan emas dan perak. Ketika melihat ketujuh peti tersebut, mereka berkata: Demi Allah, kita tidak akan mengubur mayat uskup ini. Mereka menyalib Uskup tersebut dan melemparinya dengan batu. Setelah itu, mereka menunjuk orang lain untuk menjadi Uskup pengganti.

SALMAN BERSAMA USKUP YANG SHOLIH

Aku tidak pernah melihat orang yang sholat yang lebih mulia, lebih zuhud, lebih cinta kepada akhirat, lebih tekun di siang dan malam hari dari Uskup baru tersebut. Aku mencintai Uskup tersebut dengan cinta yang tidak ada duanya. Aku tinggal bersamanya lama sekali hingga kemudian ajal menjemputnya. Aku berkata kepadanya (sebelum dia wafat), sesungguhnya aku telah hidup bersamamu dan aku mencintaimu dengan cinta yang tidak ada duanya, sekarang seperti yang telah lihat keputusan Allah telah datang kepadamu, maka engkau titipkan aku kepada siapa (untuk belajar)? Uskup menjawab: Anakku, demi Allah aku tidak tahu ada orang yang seperti diriku. Manusia sudah banyak yang meninggal dunia, mengubah agamanya dan meninggalkan apa yang sebelumnya mereka kerjakan, kecuali satu orang di Al-Maushil, yaitu Si Fulan, ia seperti diriku. Pergilah engkau kepadanya!

[SALMAN BERSAMA USKUP DI AL-MAUSHIL]

Ketika Uskup tersebut telah meninggal dunia dan di kubur, aku pergi kepada Uskup Al-Maushil. Ketika sampai di sana, aku katakan kepadanya: Hai Fulan, sesungguhnya Uskup si Fulan telah berwasiat kepadaku ketika hendak wafat agar aku pergi kepadamu. Ia jelaskan kepadaku bahwa engkau seperti dia, Uskup tersebut berkata: Tinggallah bersamaku! Aku menetap bersamanya. Aku melihat ia sangatlah baik seperti cerita shahabatnya. Tidak lama kemudian Uskup tersebut wafat. Menjelang wafatnya, aku berkata kepadanya: Hai Fulan, sesungguhnya Uskup si Fulan telah berwasiat kepadaku agar aku pergi kepadamu dan sekarang keputusan Allah telah datang kepadamu seperti yang engkau lihat, maka kepada siapa engkau wasiatkan? Apa yang engkau perintahan kepadaku? Uskup berkata: Anakku demi Allah, aku tidak tahu ada orang seperti kita kecuali satu orang saja di Nashibin, yaitu Si Fulan. Pergilah kepadanya.

SALMAN BERSAMA USKUP NASHIBIN

Ketika Uskup tersebut wafat dan usai dikubur, aku pergi kepada Uskup Nashibin. Aku jelaskan perihal diriku kepadanya dan apa yang diperintahkan dua shahabatku kepadanya. Ia berkata tinggallah bersamaku, aku tinggal bersamanya, dan aku dapati dia seperti dua shahabatku yang telah wafat. Aku tinggal bersama orang yang terbaik. Demi Allah tidak lama kemudian ia wafat. Menjelang kematiannya, aku berkata: Hai Fulan, sungguh Si Fulan telah berwasiat kepadaku agar aku pergi kepada Si Fulan, kemudian Si Fulan tersebut berwasiat kepadaku agar aku pergi kepadamu, maka kepada siapa aku engkau wasiatkan? Apa yang akan engkau perintahkan kepadaku? Uskup tersebut berkata: Anakku demi Allah, aku tidak tahu orang yang seperti kita dan aku perintahkan engkau pergi kepadanya kecuali satu orang di Ammuriyah wilayah Romawi. Ia sama seperti kita. Jika engkau mau, pergilah kepadanya, karena ia sama seperti kita.

SALMAN PERGI KE USKUP AMMURIYAH

Ketika Uskup Nashibin telah wafat dan dikuburkan, aku pergi kepada Uskup Ammuriyah. Aku jelaskan perihal diriku kepadanya. Ia berkata: Tinggallah bersamaku! Aku tinggal bersama orang yang terbaik sesuai dengan petunjuk shahabat-shahabatnya dan perintah mereka. Aku bekerja (sambil belajar), sehingga aku memiliki beberapa lembu dan kambing-kambing, tidak lama kemudian, Uskup tersebut wafat, menjelang wafatnya aku bertanya kepadanya: Hai Si Fulan sungguh aku pernah tinggal bersama Si Fulan, kemudian ia berwasiat kepadaku agar aku pergi kepada Si Fulan, kemudian Si Fulan tersebut berwasiat kepadaku agar pergi kepada Si Fulan, kemudian Si Fulan tersebut berwasiat agar aku pergi kepada Si Fulan, kemudian Si Fulan berwasiat agar aku pergi kepada engkau, maka kepada siapa engkau wasiatkan? Uskup berkata: Anakku, demi Allah, sungguh aku tidak tahu pada hari ini ada orang-orang yang seperti kita yang aku bisa perintahkan kepada engkau untuk pergi kepadanya, namun telah dekat datangnya seorang Nabi. Ia diutus dengan membawa agama Ibrahim –‘alaihis salam- dan muncul di negeri Arab. Tempat hijrahnya adalah daerah diantara dua daerah yang berbatu dan diantara dua daerah tersebut terdapat pohon-pohon kurma., Nabi tersebut mempunyai tanda-tanda yang tidak bisa disembunyikan; ia memakan hadiah dan tidak memakan sedekah. Diantara kedua bahunya terdapat cap kenabian. Jika engkau bisa pergi kenegeri tersebut, pergilah engkau kesana!

SALMAN PERGI KELEMBAH AL-QURO

Setelah Uskup tersebut wafat dan di makamkan. Dan aku tetap tinggal di Ammuriyah hingga beberapa lama. Setelah itu, sekelompok pedagang berjalan melewatiku. Aku berkata kepada mereka: Bawalah aku kenegeri Arab, niscaya aku serahkan kambingku ini kepada kalian, mereka berkata: Ya, aku berikan lembu dan kambing-kambingku kepada mereka, dan mereka membawaku. Namun ketika tiba di lembah Al-Quro, mereka mendzolimiku. Mereka menjualku kepada orang Yahudi sebagai seorang budak. Kemudian aku tinggal bersama orang Yahudi tersebut, dan aku melihat kurma. Aku berharap kiranya negeri ini yang pernah diisyaratkan shahabatku.

SALMAN TIBA DI MADINAH

Disaat aku tinggal dengan orang Yahudi tersebut, tiba-tiba saudara misan orang Yahudi yang berasal dari Bani Quraidzah tiba dari Madinah. Ia membeliku dari orang Yahudi tersebut, dan membawaku ke Madinah, demia Allah, ketika aku melihat Madinah, persis seperti yang dijelaskan shahabatku. Aku menetap di sana. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus sebagai Nabi dan masih menetap di Makkah dalam jangka waktu tertentu dan aku tidak mendapatkan informasi tentang beliau karena kesibukanku berstatus sebagai budak. Tidak lama setelah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah. [SALMAN MENDENGAR TEMPAT HIJRAH NABI] Demi Allah, aku berada di atas pohon kurma mengerjakan beberapa pekerjaan untuk tuanku, sedang tuanku duduk di bawahku. Tiba-tiba saudara misan tuanku datang dan berdiri di depannya sembari berkata: Hai Fulan semoga Allah membunuh Bani Qailah. Demi Allah, sesungguhnya mereka sekarang berkumpul di Quba’ untuk menyambut kedatangan seorang laki-laki dari Makkah, dan mereka mengklaim bahwa orang tersebut adalah Nabi. Ketika aku mendengar ucapan saudara misan tuanku, aku menggigil seolah-olah aku jatuh mengenai tuanku. Kemudia aku turun dari atas pohon kurma dan bertanya kepada saudara misan tuanku, apa yang engkau katakan tadi? Tuanku marah kepadaku dan menamparku dengan sangat marah mendengar pertanyaanku, sembari berkata: Apa urusanmu dengan persoalan ini? Pergi sana dan bereskan pekerjaanmu! Aku berkata: tidak apa-apa, aku hanya kepingin tahu ucapannya.

SALMAN MENCARI TANDA-TANDA KENABIAN PADA RASULULLAH

Aku mempunyai sesuatu yang telah aku siapkan. Pada sore hari, aku mengambilnya kemudian pergi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di Quba’. Aku masuk menemui beliau dan berkata kepadanya: Aku mendapat informasi bahwa engkau orang yang sholih. Engkau mempunyai shahabat-shahabat, terasing dan memerlukan bantuan. Ini sedekah dariku. Aku melihat kalian lebih berhak daripada orang lain. Aku serahkan sedekah tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau berkata kepada shahabat-shahabatnya: “Makanlah” beliau menahan mulutnya dan tidak memakan sedikitpun dari sedekahku. Aku berkata dalam hati, ini tanda pertama, kemudian aku minta pamit dari hadapan Rasulullah. Setelah itu ku mengumpulkan sesuatu yang lain, sementara Rasulullah shallallahu ;alaihi wa sallam sudah pindah ke Madinah. Aku datang kepada beliau dan berkata kepadanya: sungguh aku melihatmu tidak memakan harta sedekah. Ini hadiah khusus aku berikan kepadamu. Maka Rasulullah memakan hadiah dariku dan memerintahkan shahabat-shahabatnya ikut makan bersamanya. Aku berkata dalam hati ini tanda yang kedua.

Sumber : http://www.ahlussunnah-jakarta.com/artikel_detil.php?id=154





Siapa Sebenarnya Otak Teror WTC?

18 06 2009

Los Angeles – Peristiwa meledaknya menara kembar World Trade Center (WTC), New York, 11 September 2001, telah memakan banyak korban dan trauma panjang warga AS. Namun, insiden itu hingga kini masih menyisakan misteri dan sejumlah kejanggalan. Bahkan orang yang disebut sebagai otak penyerangan itu kini mengaku dipaksa mengarang cerita tentang teror. Mengapa?

Khalid Shaikh Mohammed selama ini dituding sebagai otak peledakan WTC. Namun, pada Senin (15/6) lalu, seperti dilansir Los Angeles Times, ia mengaku keterangan yang diberikannya selama ini diungkapkan karena ia tak tahan dengan siksaan saat diinterogasi CIA.

Pengakuan itu diungkapkan Mohammed setelah dia dipindahkan ke penjara militer Guantanamo pada 2006. Sebelumnya, dia ditahan di penjara rahasia CIA setelah ditangkap pada 2003. Hal ini juga disimpulkan berdasarkan dokumen yang diteliti harian itu.

“Saya mengarang cerita,” kata Khalid. Ia mengungkapkan hal itu dalam bahasa Inggris yang terpatah-patah saat ditanya soal keberadaan pemimpin Al-Qaeda, Osama bin Laden.

Setiap kali ia ‘tidak tahu’, para penyidik CIA langsung menyiksanya. Sehingga, dia akhirnya menjawab sekenanya. “Dia ada di wilayah ini,” katanya soal Osama.

Dokumen yang dibeberkan Los Angeles Times sendiri didapatkan dari seorang pengacara dari Persatuan Kebebasan Sipil Amerika (American Civil Liberties Union). “Ini menekankan pernyataan yang tidak bisa dipercaya berdasarkan pengakuan dari hasil penyiksaan,” kata Direktur ACLU’s National Security Project, Jameel Jaffer.

Pengakuan itu mungkin belum seberapa. Beberapa waktu yang lalu, lima tersangka utama tragedi 9/11 menyimpan kejutan. Seorang di antaranya, Ziad Al Jarrah, ternyata pernah cukup lama bekerja untuk agen intelijen Israel Mossad.

Menurut artikel yang dipublikasikan media mingguan AS, American Free Press, Al Jarrah terbukti terlibat dalam peristiwa pada 11 September 2001 itu. Bersama keempat kawannya, mereka dengan bangga mengakuinya. Namun, fakta bahwa pria berkebangsaan Libanon itu adalah mantan agen Mossad sangat mengejutkan AS.

Apalagi, Al Jarrah bukanlah agen biasa saat bekerja untuk Mossad. Menurut pengakuannya, ia pernah bekerja dalam operasi penyamaran di kelompok Palestina dan Hizbullah Libanon sejak 1983.

Hubungan Israel dengan tragedi 9/11, menurut harian suratkabar New York Times bisa diselidiki dengan menelusuri lima orang yang dikenal sebagai dancing Israeli. Ketika pesawat Flight 11 dan Flight 175 menabrak menara kembar itu, lima orang Israel terlihat menari dan bersorak-sorai di lokasi kejadian.

Kelima warga Israel yang diduga agen Mossad itu ditahan selama 71 hari sebelum akhirnya dilepas. Sejak itulah, CIA mencurigai keterlibatan Mossad dan melakukan pengawasan yang tak membuahkan hasil, hingga memasuki hampir tahun ke delapan tragedi itu.

“Tak ada keraguan bahwa hal itu (perintah menutup penyidikan) datang dari Gedung Putih. CIA berasumsi hal ini akan ditutupi sehingga Israel dianggap sama sekali tak terlibat dalam tragedi 9/11,” demikian kesimpulan New York Times.

Sebuah jajak pendapat di 17 negara yang dipublikasikan 10 September 2008 sendiri menunjukkan belum ada konsensus tentang pelakunya. Jajak pendapat yang dilakukan dari 15 Juli-31 Agustus 2008 tersebut meliputi 16 ribu lebih responden di 17 negara.

Hasilnya, mayoritas responden di sembilan negara saja yang meyakini Al-Qaeda bertanggung jawab atas serangan 11 September 2001. Di Eropa, 56% responden di Inggris dan Italia meyakini Al-Qaeda, dan didukung 63% responden di Prancis dan 64% di Jerman. Sementara 23% responden Jerman dan 15% responden Italia melimpahkan kesalahan kepada pemerintah AS.

Sementara di Timur Tengah, 43% responden Mesir meyakini Israel berada di balik serangan itu. Keyakinan ini diperkuat oleh 31 responden Yordania. Sementara 36% responden Turki dan 27% responden Palestina menimpakan kesalahan di pundak pemerintah AS.

Di Amerikan Latin, 30% responden Meksiko melimpahkan kesalahan kepada AS dan 33% meyakini Al-Qaeda berada di balik serangan itu. Hanya dua negara di Afrika yang mayoritas mutlak responden meyakini kelompok ekstrem itu bertangung jawab. Yakni Kenya (77% responden) dan Nigeria (71% responden).

Tragis atau mungkin lebih tepat ironi. Di saat sejumlah fakta dan data ditemukan, justru hal itu selalu menguap begitu saja. Bahkan, semua dianggap merupakan bagian bagian dari teori konspirasi yang langsung dibantah oleh sejumlah analis.

Delapan tahun hampir berlalu sejak tragedi itu melukai banyak pihak. Namun, tak kunjung ada kejelasan siapa sebenarnya pelaku aksi biadab itu. [P1]

Sumber : www.inilah.com

Penulis : Nusantara HK Mulkan





Kekeliruan antara Masjid Al-Aqsa dan Dome of The Rock

10 10 2007

Melihat pada gambar di atas, tentunya ramai yang menyangka bahawa masjid di atas adalah Masjid Al-Aqsa. Jika diperhatikan denga teliti, kita akan dapat melihat sebuah lagi kubah berwarna hijau yang kelihatan agak samar-samar. Percayalah, kubah yang berwarna hijau itulah Masjid Al-Aqsa yang sebenarnya.

Masjidil Aqsa merupakan kiblat pertama bagi Umat Islam sebelum dipindahkan ke Kaabah dengan perintah Allah SWT. Kini ia berada di dalam kawasan jajahan Yahudi. Dalam keadaan yang demikian, pihak Yahudi telah mengambil kesempatan untuk mengelirukan Umat Islam dengan mengedarkan gambar Dome of The Rock sebagai Masjidil Aqsa. Tujuan mereka hanyalah satu, iaitu untuk meruntuhkan Masjidil Aqsa yang sebenarnya. Apabila Umat Islam sendiri sudah terkeliru dan sukar untuk membezakan Masjidil Aqsa yang sebenarnya. Maka semakin mudahlah tugas mereka untuk melaksanakan perancangan tersebut.

Lihat pula gambar di bawah, berikut adalah gambar sebenar Masjidil Aqsa pada jarak yang lebih dekat. Betapa jauhnya perbezaan antara Dome of The Rock jika dibandingkan dengan Masjidil Aqsa. Hanya Jauhari juga yang mengenal Manikam

Agenda Israel menghapuskan Masjidil Aqsa

Berikut disertakan juga terjemahan daripada surat yang dikarang dan dikirimkan oleh Dr. Marwan kepada ketua pengarang “Al-Dastour” harian. Berhati-hatilah dengan perancangan zionist tentang Masjidil Aqsa. Jangan biarkan mereka berjaya dengan peracangan mereka.
Terjemahan surat Dr. Marwan:

Terdapat beberapa kekeliruan di antara Masjidil Aqsa dan The Dome of The Rock. Apabila sahaja disebut tentang Masjidil Aqsa di dalam media tempatan mahupun antarabangsa, gambar The Dome of The Rock pula yang dipaparkan. Sebab utama ia dilakukan adalah bagi mengabaikan orang ramai dimana ianya adalah perancangan Israel. Tinjauan ini diperolehi semasa saya tinggal di USA, dimana saya telah dimaklumkan bahawa Zionis di Amerika telah mencetak dan mengedarkan gambar tersebut dan menjualkannya kepada orang arab dan Muslim. Kadangkala dijual dengan harga yang murah bahkan kadangkan diberikan secara percuma supaya Muslim dapat mengedarkannya dimana-mana sahaja. Tak kira di rumah mahupun pejabat.

Ini meyakinkan saya bahawa Israel ingin menghapuskan gambaran Masjid Al-Aqsa dari ingatan umat Islam supaya mereka dapat memusnahkannya dan membina kuil mereka tanpa sebarang publisiti. Sekiranya terdapat pihak yang membangkang atau merungut, maka Israel akan menunjukkan gambar The Dome of The Rock yang masih utuh berdiri, dan menyatakan bahawa mereka tidak berbuat apa-apa. Rancangan yang sungguh bijak! Saya juga merasa amat terperanjat apabila bertanya kepada beberapa rakyat arab, Muslim, bahkan rakyat Palestin kerana mendapati mereka sendiri tidak dapat membezakan antara kedua bangunan tersebut. Ini benar-benar membuatkan saya berasa kesal dan sedih kerana hingga kini Israel telah berjaya dalam perancangan mereka.
Dr. Marwan Saeed Saleh Abu Al-Rub Associate Professor, Mathematics Zayed University Dubai

Lebih jelasnya lihat gambar berikut.

editan_aqsa1.JPG

editan_al_haram_al_sharif_2.JPG

 

editan_al_aqsa_mosque.JPG

Sumber : www.darulnuman.com 





Asal Muasal Nama “SUMATERA”

4 10 2007

NAMA ASLI pulau Sumatera, sebagaimana tercatat dalam sumber-sumber sejarah dan cerita-cerita rakyat, adalah “Pulau Emas”. Istilah pulau ameh kita jumpai dalam cerita Cindur Mata dari Minangkabau. Dalam cerita rakyat Lampung tercantum nama tanoh mas untuk menyebut pulau mereka yang besar itu. Seorang ******* dari Cina yang bernama I-tsing (634-713), yang bertahun-tahun menetap di Sriwijaya (Palembang sekarang) pada abad ke-7, menyebut pulau Sumatera dengan nama chin-chou yang berarti “negeri emas”.

Dalam berbagai prasasti, pulau Sumatera disebut dengan nama Sansekerta: Suwarnadwipa (“pulau emas”) atau Suwarnabhumi (“tanah emas”). Nama-nama ini sudah dipakai dalam naskah-naskah India sebelum Masehi. Naskah Buddha yang termasuk paling tua, Kitab Jataka, menceritakan pelaut-pelaut India menyeberangi Teluk Benggala ke Suwarnabhumi. Dalam cerita Ramayana dikisahkan pencarian Dewi Sinta, istri Rama yang diculik Ravana, sampai ke Suwarnadwipa.

Para musafir Arab menyebut pulau Sumatera dengan nama Serendib (tepatnya: Suwarandib), transliterasi dari nama Suwarnadwipa. Abu Raihan Al-Biruni, ahli geografi Persia yang mengunjungi Sriwijaya tahun 1030, mengatakan bahwa negeri Sriwijaya terletak di pulau Suwarandib. Cuma entah kenapa, ada juga orang yang mengidentifikasi Serendib dengan Srilanka, yang tidak pernah disebut Suwarnadwipa!

Di kalangan bangsa Yunani purba, Pulau Sumatera sudah dikenal dengan nama Taprobana. Nama Taprobana Insula telah dipakai oleh Klaudios Ptolemaios, ahli geografi Yunani abad kedua Masehi, tepatnya tahun 165, ketika dia menguraikan daerah Asia Tenggara dalam karyanya Geographike Hyphegesis. Ptolemaios menulis bahwa di pulau Taprobana terdapat negeri Barousai. Mungkin sekali negeri yang dimaksudkan adalah Barus di pantai barat Sumatera, yang terkenal sejak zaman purba sebagai penghasil kapur barus.

Naskah Yunani tahun 70, Periplous tes Erythras Thalasses, mengungkapkan bahwa Taprobana juga dijuluki chryse nesos, yang artinya ‘pulau emas’. Sejak zaman purba para pedagang dari daerah sekitar Laut Tengah sudah mendatangi tanah air kita, terutama Sumatera. Di samping mencari emas, mereka mencari kemenyan (Styrax sumatrana) dan kapur barus (Dryobalanops aromatica) yang saat itu hanya ada di Sumatera. Sebaliknya, para pedagang Nusantara pun sudah menjajakan komoditi mereka sampai ke Asia Barat dan Afrika Timur, sebagaimana tercantum pada naskah Historia Naturalis karya Plini abad pertama Masehi.

Dalam kitab umat Yahudi, Melakim (Raja-raja), fasal 9, diterangkan bahwa Nabi Sulaiman a.s. raja Israil menerima 420 talenta emas dari Hiram, raja Tirus yang menjadi bawahan beliau. Emas itu didapatkan dari negeri Ophir. Kitab Al-Qur’an, Surat Al-Anbiya’ 81, menerangkan bahwa kapal-kapal Nabi Sulaiman a.s. berlayar ke “tanah yang Kami berkati atasnya” (al-ardha l-lati barak-Na fiha).

Di manakah gerangan letak negeri Ophir yang diberkati Allah itu? Banyak ahli sejarah yang berpendapat bahwa negeri Ophir itu terletak di Sumatera! Perlu dicatat, kota Tirus merupakan pusat pemasaran barang-barang dari Timur Jauh. Ptolemaios pun menulis Geographike Hyphegesis berdasarkan informasi dari seorang pedagang Tirus yang bernama Marinus. Dan banyak petualang Eropa pada abad ke-15 dan ke-16 mencari emas ke Sumatera dengan anggapan bahwa di sanalah letak negeri Ophir-nya Nabi Sulaiman a.s.

Lalu dari manakah gerangan nama “Sumatera” yang kini umum digunakan baik secara nasional maupun oleh dunia internasional? Ternyata nama Sumatera berasal dari nama Samudera, kerajaan di Aceh pada abad ke-13 dan ke-14. Para musafir Eropa sejak abad ke-15 menggunakan nama kerajaan itu untuk menyebut seluruh pulau. Sama halnya dengan pulau Kalimantan yang pernah disebut Borneo, dari nama Brunai, daerah bagian utara pulau itu yang mula-mula didatangi orang Eropa. Demikian pula pulau Lombok tadinya bernama Selaparang, sedangkan Lombok adalah nama daerah di pantai timur pulau Selaparang yang mula-mula disinggahi pelaut Portugis. Memang orang Eropa seenaknya saja mengubah-ubah nama tempat. Hampir saja negara kita bernama “Hindia Timur” (East Indies), tetapi untunglah ada George Samuel Windsor Earl dan James Richardson Logan yang menciptakan istilah Indonesia, sehingga kita-kita ini tidak menjadi orang “Indian”! (Lihat artikel penulis, “Asal-Usul Nama Indonesia”, Harian Pikiran
Rakyat, Bandung, tanggal 16 Agustus 2004, yang telah dijadikan salah satu referensi dalam Wikipedia artikel “Indonesia”).

Peralihan Samudera (nama kerajaan) menjadi Sumatera (nama pulau) menarik untuk ditelusuri. Odorico da Pardenone dalam kisah pelayarannya tahun 1318 menyebutkan bahwa dia berlayar ke timur dari Koromandel, India, selama 20 hari, lalu sampai di kerajaan Sumoltra. Ibnu Bathutah bercerita dalam kitab Rihlah ila l-Masyriq (Pengembaraan ke Timur) bahwa pada tahun 1345 dia singgah di kerajaan Samatrah. Pada abad berikutnya, nama negeri atau kerajaan di Aceh itu diambil alih oleh musafir-musafir lain untuk menyebutkan seluruh pulau.

Pada tahun 1490 Ibnu Majid membuat peta daerah sekitar Samudera Hindia dan di sana tertulis pulau Samatrah. Peta Ibnu Majid ini disalin oleh Roteiro tahun 1498 dan muncullah nama Camatarra. Peta buatan Amerigo Vespucci tahun 1501 mencantumkan nama Samatara, sedangkan peta Masser tahun 1506 memunculkan nama Samatra. Ruy d’Araujo tahun 1510 menyebut pulau itu Camatra, dan Alfonso Albuquerque tahun 1512 menuliskannya Camatora. Antonio Pigafetta tahun 1521 memakai nama yang agak ‘benar’: Somatra. Tetapi sangat banyak catatan musafir lain yang lebih ‘kacau’ menuliskannya: Samoterra, Samotra, Sumotra, bahkan Zamatra dan Zamatora.

Catatan-catatan orang Belanda dan Inggris, sejak Jan Huygen van Linschoten dan Sir Francis Drake abad ke-16, selalu konsisten dalam penulisan Sumatra. Bentuk inilah yang menjadi baku, dan kemudian disesuaikan dengan lidah kita: Sumatera

Sumber : Milist Sekolah Rumah 





Bukan Bangsa Jongos

6 08 2007

 

Budiarto Shambazy

Walau cuma sebentar, rasanya nikmat menyaksikan DVD Hindia-Belanda di Perang Dunia Kedua (Institut Dokumentasi Perang Belanda). Tak bosan memelototi lanskap geografis dan historis “mooy Indië” awal 1940-an.

Anda kini mengerti mengapa Ismail Marzuki menulis, “Tempat lahir beta, tempat berlindung di hari tua, tempat akhir menutup mata”. Pantas banyak negara asing atau perusahaan multinasional yang bernafsu menguasai sumber-sumber alam kita dari dulu sampai kini.

Film campuran hitam-putih dan colorization dengan narasi serta musik latar orkestrasi ini terdiri dari tiga keping DVD. Di bagian “Komunitas Kolonial”, sang narator mengawali cerita dengan perjalanan kapal laut dari Amsterdam ke Batavia yang masih dusun kecil.

Trem di Batavia dan “Soerabaia” sepi penumpang dan bersih. Penduduk Indonesia sekitar 70 juta jiwa, 50 juta di antaranya hidup di Jawa.

Di Pasar Baru, Batavia, berseliweran mobil, oplet, sepeda, sado, sampai “noni-noni” Belanda. Sebuah restoran di Simpang Lima, Surabaya, disesaki kelasi Barat yang duduk-duduk di kursi yang rendah sambil menikmati minum dan musik di siang yang panas itu.

Batavia gudang gedung atau monumen bersejarah. Ada De Harmonie yang kini jadi area parkir Istana Merdeka, Des Indes yang dirubuhkan jadi pertokoan, atau Kali Krukut yang picturesque yang tak kalah indah dibandingkan dengan Sungai Spree, Berlin, Jerman.

Kota tua di Honolulu (Amerika Serikat), Den Haag (Belanda), atau Kuala Lumpur (Malaysia) nyaris tak berubah dari abad ke abad. Mereka menjaga kekayaan sejarah dengan pelbagai aturan tata kota yang ketat.

Jakarta tak lagi mempunyai masa lalu karena diurus orang- orang tak becus. Orde Baru melenyapkan De Harmonie dan Des Indes, Orde Reformasi menghancurkan Stadion Menteng.

“Komunitas Kolonial” membawa Anda bertualang ke Yogyakarta, pabrik rokok Faroka di Jawa Timur, dan “teras padi” nan indah di Bali. Tampak aktivitas pemburu buaya di Martapura, Kalimantan, dan senyum renyah Sultan Maluku dan istri.

Saat kereta api menikung di tepi Danau Singkarak, Minangkabau, Anda dikejutkan dengan suara air terjun raksasa. Gaya manortor para tetua Batak pada masa itu membuat siapa pun menyunggingkan senyum.

Pada keping kedua ada judul “Jepang di Komunitas Indonesia” dan “Kehidupan Sehari-hari di Masa Pendudukan”. Isinya, potongan-potongan film propaganda Jepang.

Panglima Armada Laksamana Isoroku Yamamoto memimpin pendaratan di Jawa, April 1943. “Kalian 50 juta rakyat Indonesia! Sekarang saya minta pada kamu supaya insaf sedalam-dalamnya dan berdirilah untuk bersatu,” kata Yamamoto yang menjual dongeng made in Japan tentang “Asia Timur Raya”.

Dan tampillah sang bintang lanskap politik, Bung Karno. Ia dituduh sebagai kolaborator Jepang karena mengikuti perintah “saudara tua” dari Negeri Matahari Terbit itu.

Waktu itu tak ada yang berani melawan pasukan Jepang. Semua dipaksa meneriakkan slogan “tenno haika banzai” (semoga kaisar panjang umur sampai 10.000 tahun) sambil mengangkat kedua lengan tinggi-tinggi seperti orang lagi senam.

Bung Karno menjadi moncong propaganda Jepang. “Karena itu semboyan kita sekarang ini ialah hancurkan kekuatan Amerika, hancurkan kekuatan Inggris. Amerika kita setrika, Inggris kita linggis,” seru Bung Karno sang orator ulung.

Jepang merekrut pemuda-pemuda Indonesia untuk menjadi heiho angkatan laut atau tentara Pembela Tanah Air. Mereka bukan cuma latihan berbaris dan menembak, namun juga melahap sarapan ala bento lengkap dengan sumpit serta wajib mengikuti lomba gulat sumo.

Ada tayangan sekitar sepuluh menit yang diawali dengan pemandangan sekilas di sekitar Situ Lembang, Menteng. Mereka bersepeda atau berjalan kaki, lengkap dengan seragam serta tas punggung menuju ke “Sekolah Rakjat Akebono”.

Mereka sejak kecil sudah menjadi penutur bahasa Indonesia, Belanda, Jepang, dan mungkin bahasa Inggris sekaligus. Tak heran mereka disebut generasi yang terdidik dan berbudaya dibandingkan generasi hasil didikan Depdiknas.

Salah satu judul DVD ketiga “Soekarno dan Kaum Nasionalis”. Tanggal 7 September 1944 Yamamoto mengumumkan “perkenan kemerdekaan kepada Indonesia” yang waktunya disebut “di kemudian hari”.

Esok harinya Bung Karno pidato di depan Yamamoto. “Tetapi kami pun menyerahkan saat kemerdekaan itu kepada yang maha mulia… cepat atau lambatnya saat itu datang tergantung dari besar atau kecilnya usaha kami untuk mendapatkan kecakapan-kecakapan yang perlu buat kemerdekaan…”.

Rakyat berpesta di mana-mana. Refrain lagu Indonesia Raya ternyata juga berbunyi, “Indonesia Raya/Mulia, mulia/Hiduplah Indonesia Raya”.

Ada subjudul “Tawanan Orang Belanda”. Puas menyaksikan tentara-tentara kompeni hidup tanpa air bersih atau tidur tanpa kelambu.

Subjudul “Jepang Menyerah” mendatangkan gumam, “Rasain lu!” Geram mendengar kekejaman mereka selama 3,5 tahun menjajah kita.

Mereka membayar pampasan perang. Belanda kekenyangan selama tiga setengah abad, sempat mau kembali ke sini dengan mendompleng Sekutu, dan juga sempat enggan untuk mengakui Proklamasi 17 Agustus 1945.

Jangan lupa, kita juga sering dijajah bangsa sendiri. Pelajaran terpenting dari DVD Hindia-Belanda di Perang Dunia Kedua ini, jangan mau menjadi jongos yang disetir dari Den Haag, Tokyo, ataupun Washington DC.

Sumber : Kompas.com