Untuk menguasai suatu negara saya lebih memilih menggunakan ‘senjata’ film. Dengan perantaraan bioskop, saya bisa mempengaruhi banyak orang dengan pesan yang saya bawa melalui film. Di bioskop, suasananya cocok untuk hipnotis, nyaman, tenang, gelap dan sejuk, saya pasti bisa ‘menjajah’ pikiran penontonnya, lewat film.
Senjata film
7 07 2010Komentar : Tinggalkan sebuah komentar »
Tag: hypnotis, manusia, perilaku
Kategori : Humaniora, Kesehatan, Pendidikan
Upil Meningkatkan Sistem Kekebalan Tubuh?
6 05 2010Vera Farah Bararah – detikHealth
Jakarta, Dokter spesialis paru-paru asal Austria Prof Dr Friederich Bischinger pernah menyarankan orang untuk makan upil (kotoran hidungnya) sendiri karena diklaim bisa meningkatkan kekebalan tubuh.
Penemuan Prof Bischinger tahun 2004 itu sempat menjadi kontroversial. Banyak orang awam dan paramedis yang menolak mentah-mentah teori Prof Bischinger dan mengatakan teori itu tidak masuk akal.
Alasannya upil adalah kotoran yang menjijikkan karena lendir kering itu justru menjadi sampah karena berbahaya masuk dalam tubuh. Jika makan upil sama saja dengan makan semua organisme atau bakteri yang harusnya dikeluarkan melalui hidung. Tapi menurut Prof Bischinger mengupil dengan menggunakan jari-jari sendiri adalah sesuatu yang sehat, menyenangkan dan lebih sesuai dengan tubuh manusia.
“Mengupil dengan menggunakan jari sendiri tentunya bisa menjangkau tempat yang tidak bisa dicapai jika menggunakan sapu tangan. Selain itu juga bisa menjaga hidung agar tetap bersih,” ujar Prof Bischinger, seperti dikutip dari DailyTimes, Selasa (27/4/2010).
Upil itu sendiri terbentuk dari kotoran yang masuk ke dalam lubang hidung melalui proses pernapasan. Debu dan kotoran yang masuk ke hidung ini akan disaring oleh filter atau bulu-bulu hidung. Kotoran yang tidak tersaring akan ditangkap oleh lendir yang ada dihidung. Lama kelamaan lendir ini akan mengeras dan terbentuklah upil.
“Makan upil kering adalah cara yang bagus untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh. Secara medis itu masuk akal dan hal yang wajar untuk dilakukan. Dalam sistem kekebalan, hidung adalah filter yang menyaring banyak bakteri menjadi satu dan ketika campuran ini tiba di usus akan bekerja seperti obat,” kata Prof Bischinger.
“Obat moderen selalu berusaha untuk melakukan hal yang sama dengan metode yang jauh lebih rumit, orang-orang yang mengupil dan memakannya secara alami mendorong sistem kekebalan tubuh mereka secara cuma-cuma,” imbuhnya.
Mengupil merupakan kegiatan yang positif karena membantu membersihkan hidung dari kotoran. Hal ini tentu saja membuat seseorang bisa bernapas lebih baik karena tidak ada yang menghalangi jalur pernapasan.
Prof Bischinger menunjukkan saat masih kecil anak-anak senang untuk mengupil hidungnya sendiri. Tapi saat beranjak dewasa kebiasaan ini mulai terhalang oleh adanya tekanan dari masyarakat yang menganggap hal tersebut adalah suatu tindakan menjijikkan dan anti-sosial.
Hasil ini memang cukup mencengangkan, karena selama ini orang menganggap kalau upil adalah suatu kotoran yang harus dibuang dan bukan untuk dikonsumsi. Tapi bagi Prof Bischinger, upil juga bisa bertindak sebagai vitamin yang dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh seseorang.
Dr. Agus Subagio, Sp THT, dokter spesialis THT yang praktik di RS Puri Indah Jakarta mengaku tidak bisa memberikan komentar apakah penemuan ini terbukti menyehatkan atau tidak. Namun diakui Dr Agus bahwa Prof Bischinger adalah orang yang sangat disegani di dunia medis karena banyak penemuannya yang bermanfaat.
“Banyak teori-teori bedah sinus berasal dari penemuan Prof Bischinger, tapi kalau masalah manfaat upil saya belum paham,” kata Dr Agus ketika dihubungi detikHealth, Selasa (27/4/2010).
Tapi pada dasarnya lanjut Dr Agus, tubuh manusia diciptakan sempurna dengan sistem pertahanan yang canggih dan berlapis-lapis. Mulai dari bagian luar hingga bagian dalam terdapat sistem pertahanan tubuh masing-masing.
(ver/ir)
Komentar : 2 Komentar - komentar »
Tag: Kesehatan
Kategori : Kesehatan, Tips & Trik
Tertawa Bisa Meningkatkan Nafsu Makan
6 05 2010AN Uyung Pramudiarja – detikHealth
Jakarta, Apabila tidak punya waktu untuk berolah raga, sempatkanlah untuk tertawa. Dalam beberapa hal rajin tertawa bisa disamakan dengan rajin olah raga, karena efek yang dihasilkan hampir setara.
Dilansir dari Sciencedaily, Selasa (27/4/2010), sebuah penelitian pribadi pernah dilakukan pada tahun 1970-an oleh Norman Cousin, orang awam yang pernah merasakan manfaat tertawa. Ia menyimpulkan bahwa humor dan tawa bahagia bisa memperbaiki kesehatannya, dan kesimpulan tersebut dimuat di New England Journal of Medicine.
Dr. Lee S. Berk dari Loma Linda University, berkolaborasi dengan Dr. Stanley Tan tertarik untuk menindaklanjutinya. Sejak tahun 1980-an, mereka mengembangkan penelitian yang telah dirintis Cousin tersebut.
Hasilnya adalah, tawa terbukti mampu mengoptimalkan produksi hormon pada sistem endokrin. Kadar kortisol dan epinefrin berkurang, dan inilah yang menyebabkan stres berkurang. Tawa juga bisa meningkatkan sistem imun dengan memacu produksi antibodi.
Dalam penelitian tersebut mereka sekaligus memperkenalkan Laughercise, sebuah rangkaian tawa yang diklaim punya efek setara dengan olahraga ringan. Selain meningkatkan mood dan mengurangi hormon stress, Laughercise mampu meningkatkan sistem imun. Efek lainnya adalah menurunkan kadar kolesterol jahat (HDL) serta tekanan darah dan menaikkan kadar kolesterol baik (LDL).
Mempengaruhi Nafsu Makan
Baru-baru ini, Berk kembali meneliti efek tawa pada tubuh manusia. Kali ini ia mengajak rekannya di Loma Linda University, Dr. Jerry Petrofsky. Tujuannya adalah melihat pengaruh eustress (tawa bahagia) dan distress(perasaan susah) terhadap nafsu makan.
Dalam penelitian yang berlangsung selama 3 minggu ini, mereka melibatkan 14 orang relawan. Secara acak, partisipan dipertontonkan video berdurasi 20 menit dengan jeda masing-masing 1 minggu untuk menghilangkan efek video sebelumnya.
Untuk memunculkan efek distress, Berk memutarkan cuplikan dari 20 menit pertama film Saving Private Ryan. Sementara untuk eustress, relawan dibebaskan memilih video lucu apa saja sesuai selera humor mereka, dengan durasi yang sama yakni 20 menit.
Sebelum dan sesudah menonton video, tekanan dan sampel darah para relawan diamati. Dua hormon yang mempengaruhi nafsu makan yakni leptin dan ghrelin diamati dari serum yang telah dipisahkan dari sampel darah.
Dari pengamatan terhadap relawan yang menonton video distress, Berk tidak menemukan perubahan pada tekanan darah maupun kadar hormon. Sementara pada relawan yang menonton video eustress, tekanan darah dan kadar hormon berubah.
Perubahan tersebut adalah, kadar leptin turun sementara ghrelin meningkat. Menurut Berk, efek yang sama juga diperoleh ketika orang melakukan olahraga ringan yang disebut-sebut bermanfaat untuk meningkatkan nafsu makan.
Berk memang tidak menyimpulkan bahwa tertawa bisa meningkatkan nafsu makan. Namun menurutnya penelitian ini membuka kemungkinan untuk menemukan solusi pengatasan masalah nafsu makan, terutama bagi mereka yang tidak bisa rutin berolahraga.
Misalnya pada lansia, depresi dan kurangnya aktivitas fisik sering berdampak pada menurunnya nafsu makan. Hal ini sering memicu nyeri kronis, dan menurunnya kondisi kesehatan secara umum. Hal yang sama juga dialami janda atau duda yang baru saja ditinggal pasangannya.
(up/ir)
Sumber : Detik Health
Komentar : Tinggalkan sebuah komentar »
Tag: kebaikan, Kesehatan, makan
Kategori : Humaniora, Kesehatan, Tips & Trik
Tepuk Tangan Tingkatkan Kecerdasan Anak
1 05 2010Vera Farah Bararah – detikHealth
Jakarta, ‘Kalau kau suka hati tepuk tangan… prok…prok’ begitulah kadang-kadang gaya guru TK mengajarkan muridnya bermain sambil belajar. Selain menyenangkan, tepuk tangan juga bisa meningkatkan keterampikan motorik dan kognitif (kecerdasan) anak.
Peneliti dari Ben-Gurion University of the Negev (BGU) melakukan studi pertama kali mengenai manfaat lagu yang dinyanyikan sambil bertepuk tangan.
Hasilnya, menunjukkan adanya hubungan langsung dengan peningkatan aktivitas dan keterampilan perkembangan yang penting pada anak-anak, remaja hingga mahasiswa perguruan tinggi.
“Kami menemukan bahwa anak-anak kelas satu, dua dan tiga sekolah dasar yang menyanyikan lagu ini sambil bertepuk tangan menunjukkan kemampuan yang lebih dibandingkan dengan anak-anak yang tidak ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini,” ujar Dr Idit Sulkin, anggota dari BGU’s Music Science Lab in the Department of the Arts, seperti dikutip dari Sciencedaily, Sabtu (1/5/2010).
Peneliti juga menemukan tepuk tangan dapat membantu melatih keterampilan motorik anak sehingga dapat menghasilkan tulisan tangan yang rapi, menulis dengan lebih baik serta sedikit membuat kesalahan ejaan.
Dr Warren Brodsky, seorang psikolog musik yang mengawasi disertasi doktor ini mengungkapkan kegiatan tepuk tangan dapat melatih otak dan mempengaruhi perkembangan daerah otak yang lainnya.
Manfaat lainnya adalah anak-anak diajarkan melatih integritas sosialnya dengan teman-teman yang lain, sehingga kemampuan sosialisasinya lebih baik.
Dalam studi ini, Dr Sulkin dan tim pergi ke beberapa kelas sekolah dasar dan memberikan pelatihan lagu sambil bertepuk tangan. Hal ini dilakukannya selama periode waktu 10 minggu.
Selama penelitian, Dr Sulkin turut bergabung dengan anak-anak untuk bernyanyi. Hal ini untuk melihat apakah anak-anak merasa terhibur dan terpesona dalam menyanyikan lagu sambil bertepuk tangan. Kegiatan ini ternyata menjadi salah satu hiburan bagi anak-anak sekolah dasar.
“Dalam waktu yang singkat tersebut, anak-anak memiliki kemampuan kognitif yang baik serta membantu kemampuan motoriknya dalam melakukan aktivitas. Karena itu sebaiknya hal ini masuk dalam pendidikan untuk anak usia 6-10 tahun dengan tujuan meningkatkan kemampuan motorik dan kognitifnya,” ujar Dr Sulkin.
Dr Sulkin menambahkan lagu anak-anak yang dinyanyikan sambil bertepuk tangan ini biasanya dibawakan oleh anak-anak hingga usianya 10 tahun.
Jika diamati, maka kegiatan ini sangat berfungsi sebagai acuan untuk mengembangkan dan meningkatkan kebutuhan emosional, fisiologis, sosiologis dan kognitif anak-anak hingga ke tahap pertumbuhan berikutnya.
(ver/ir)
Sumber : Detik Health
Komentar : Tinggalkan sebuah komentar »
Tag: bayi, Keluarga, Kesehatan, Pendidikan
Kategori : Kesehatan, Pendidikan, Tips & Trik
Manusia Berdarah Langka Selamatkan Nyawa 2 Juta Bayi
30 03 2010Merry Wahyuningsih – detikHealth
Sydney, Kematian bayi karena penyakit rhesus darah sering terjadi karena sulitnya mencari donor darah langka tersebut. Salah satu yang memiliki darah langka itu adalah James Harrison. Pria tua itu telah menyelamatkan nyawa jutaan bayi karena darahnya yang istimewa.
James Harrison pria Australia berusia 74 tahun, telah menjadi donatur darah selama 56 tahun. Darahnya yang tergolong jenis langka telah menyelamatkam dua juta lebih nyawa bayi. Karena kebaikannya, dia dijuluki ‘manusia bertangan emas’ atau ‘manusia dalam dua juta orang’.
Harrison telah memberikan darah tiap beberapa minggu sekali sejak ia berusia 18 tahun, dan kini total sudah 948 sumbangan darahnya.
Dia telah membantu banyak ibu melahirkan bayi yang sehat, termasuk juga menjadi donor untuk bayi anaknya sendiri, Tracey. Kini bayi Tracey bisa tumbuh sehat berkat darah kakeknya.
Harrison memiliki antibodi dalam plasmanya, yang menghentikan kematian bayi akibat penyakit Rhesus, yaitu salah satu penyebab penyakit hemolitik pada bayi baru lahir dan merupakan suatu bentuk anemia yang parah. Darahnya telah mengarah pada pengembangan vaksin yang disebut Anti-D.
“Saya tidak akan pernah berhenti. Tidak akan pernah,” kata Harrison yang berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi pendonor sejak usianya 14 tahun, setelah ia menjalani pembedahan dada mayor yang membutuhkan 13 liter darah, seperti dilansir dari Dailymail, Rabu (24/3/2010).
Menurutnya, ia harus berada di rumah sakit selama tiga bulan saat menjalani pembedahan. Darah yang ia terima telah menyelamatkan hidupnya, dan sejak itu ia berjanji akan memberikan darahnya ketika ia berusia 18 tahun.
Tepat setelah ia mulai menyumbangkan darahnya, ia mengetahui bahwa darahnya adalah jenis yang langka dan terdapat antibodi penyelamat di dalamnya.
Pada waktu itu, ribuan bayi di Australia sekarat tiap tahunnya karena penyakit Rhesus. Bayi yang baru lahir lainnya menderita kerusakan otak permanen karena kondisi tersebut.
Penyakit ini menciptakan ketidakcocokan antara darah ibu dan bayinya yang belum lahir. Ini dikarenakan salah satu dari mereka memiliki Rh-positif (memiliki antigen D) dan lainnya Rh-negatif (tidak memiliki antigen D).
Setelah tipe darahnya ditemukan, Harrison menawarkan diri untuk menjalani serangkaian tes untuk membantu mengembangkan vaksin anti-D. Harrison memiliki Rh-negatif dan ia diberikan suntikan darah Rh-positif.
Harrison telah memberikan darahnya pada ratusan ribu perempuan. Ia juga memberikan darahnya pada bayi setelah mereka dilahirkan untuk menghentikan mengembangan penyakit. Diperkirakan, ia telah menyelamatkan 2,2 juta bayi sampai saat ini.
Darah Harrison dianggap begitu istimewa. Hidupnya telah diasuransikan untuk satu juta dolar Australia.
“Saya tidak takut. Saya senang membantu. Saya harus menandatangani setiap bentuk pendonoran dan pada dasarnya menandatangi kehidupan saya,” kata Harrison.
(mer/ir)
Sumber : http://health.detik.com
Komentar : Tinggalkan sebuah komentar »
Tag: bayi, darah, kebaikan, Kesehatan, pertolongan Alloh
Kategori : Humaniora, Kesehatan
Reformasi Kesehatan Obama Disetujui Kongres AS
22 03 2010Terlepas dari kontroversinya sebuah negara yang bernama Amerika, tapi pemerintahan mereka memperjuangkan hak-hak memperoleh kesehatan bagi rakyat nya sendiri, bagaimana dengan di Indonesia ?
Washington, Seperti yang telah diyakini Presiden AS Barack Obama, Kongres AS menyetujui rancangan undang-undang (RUU) reformasi kesehatan. Dalam voting yang diadakan Minggu, 21 Maret waktu setempat, RUU kesehatan tersebut disetujui oleh 219 anggota. Sedangkan 212 anggota menolaknya.
Kini RUU tersebut tinggal menunggu ditandatangani oleh Obama untuk menjadi legislasi baru yang bersejarah. Menurut sejumlah anggota Kongres, Obama diperkirakan akan meneken RUU tersebut secepatnya pada Selasa, 23 Maret waktu setempat.
Keberhasilan lolosnya RUU ini menandai reformasi kesehatan terbesar di AS yang akan memperluas asuransi kesehatan bagi sekitar 32 juta warga AS yang belum memiliki asuransi.
Begitu RUU kesehatan ini dilaksanakan, nantinya hampir seluruh warga AS, tepatnya 95 persen populasi akan memiliki asuransi kesehatan.
Ketua DPR AS Nancy Pelosi menyambut gembira momen bersejarah ini. “Ini proposal rakyat Amerika yang menghormati tradisi negara kita,” ujarnya seperti dilansir AFP, Senin (22/3/2010).
RUU kesehatan ini merupakan salah satu janji utama Obama selama kampanye kepresidenan tahun 2008 lalu. Obama telah berjuang keras untuk menggolkan RUU yang mendapat penolakan penuh dari Partai Republik ini.
Obama dijadwalkan menyampaikan pidato langsung dari Gedung Putih pada Minggu malam waktu setempat mengenai hasil voting ini.
Dalam sebuah suratnya terbukanya kepada publik, Obama menjelaskan kenapa isu kesehatan menjadi sangat krusial di AS dengan mengisahkan cerita tentang Natoma Canfield.
“Natoma adalah penderita kanker dan untuk itu dia menjadi nasabah asuransi kesehatan,” Obama memulai kisahnya.
Namun, perusahaan asuransi terus menaikkan preminya tiap tahun. Bahkan sampai US$ 10.000 (Rp 91 juta) tiap bulan. Natoma tak sanggup lagi dan berhenti menjadi nasabah asuransi. Dia lalu menyurati Obama dan berkeluh kesah.
“Dua minggu lalu Natoma kolaps. Dia terkena leukimia (kanker darah). Dia kebingungan bagaimana dia bisa selamat secara finansial. Saya sekarang bicara karena Natoma,” jelas Obama.
Menurut dia, ternyata masih banyak warga negara AS lain seperti Natoma. Penghasilan mereka tidak seberapa dan mereka berhadapan dengan premi asuransi kesehatan yang mahal. Ketika mereka sakit, sudah tidak ada.
“Ibu saya juga meninggal karena kanker. Dalam enam bulan terakhir hidupnya, saya masih melihat dia berdebat dengan perusahaan asuransi kesehatannya,” ungkap Obama.
(ir/ir)
Sumber : http://health.detik.com
Komentar : Tinggalkan sebuah komentar »
Tag: inspirasi, kebaikan, Kesehatan, pemerintah
Kategori : Humaniora, Kesehatan
Kalau Sarapan Pun Jadi Urusan Negara
12 10 2007Sarapan atau makan pagi buat banyak orang hanyalah soal kebiasaan dan selera, tak perlu jadi urusan publik, apalagi negara. Namun, tidak demikian di Jepang. Soal sarapan jadi bagian dari kerja pemerintah. Bagi Pemerintah Jepang, soal makan pagi adalah soal penting yang perlu mendapat perhatian serius dari negara.
Untuk urusan makan pagi ini, Departemen Kesehatan, Departemen Tenaga Kerja, dan Departemen Sosial melakukan survei tahun 2005, yaitu survei nutrisi dan kesehatan nasional.
Dari hasil survei didapat fakta bahwa satu dari tiga pria usia 20 tahun di Jepang tidak sarapan. Adapun di kalangan perempuan usia 20 tahun, satu dari empat perempuan tidak sarapan. Kelompok usia 20 tahun ini memang kelompok yang paling banyak tidak sarapan, disusul kelompok usia 30 tahun. Sementara kelompok usia 70 tahun ke atas adalah kelompok yang paling rajin makan pagi.
Dari soal sarapan ini, menurut Asisten Konselor Departemen Promosi Pendidikan Pola Makan Jepang Miho Kawano, bisa disimpulkan telah terjadi pergeseran pola makan orang Jepang.
Tren mengabaikan makan pagi semakin meningkat pada anak-anak SD dan SMP. Jika pada tahun 1995 hanya 13,3 persen murid SD di Jepang yang tidak sarapan, tahun 2005 persentasenya meningkat menjadi 14,75 persen. Sementara di kalangan siswa SMP, tahun 1995 hanya 18,9 persen anak yang tidak sarapan, tahun 2005 menjadi 19,5 persen. Alasan mereka tidak makan adalah tidak ada waktu atau tidak disediakan oleh orangtuanya.
Padahal, bagi generasi terdahulu, sarapan merupakan bagian dari “ritual” kehidupan yang harus dilakukan untuk memulai sebuah hari baru.
“Ketidakpedulian terhadap makan pagi telah membuat pola diet masyarakat berubah. Ini memengaruhi kesehatan dan produktivitas mereka. Jika kebiasaan itu meluas, akan memengaruhi bangsa ini,” kata Miho.
Mulai pudar
Bukan hanya kebiasaan makan pagi yang mulai pudar di kalangan keluarga Jepang, tradisi makan bersama keluarga pun memudar. Dari survei yang dilakukan terhadap pelajar usia 5 tahun-18 tahun diperoleh kenyataan semakin sedikit persentase anak yang menikmati makan malam setiap hari bersama seluruh anggota keluarganya.
Jika tahun 1976, sekitar 36,5 persen anak menikmati makan malam setiap hari dengan seluruh keluarganya, tahun 2004 hanya 25,9 persen anak yang menikmatinya. Hal itu sejalan dengan semakin meningkatnya tren makan di luar dan kebiasaan makan makanan siap saji.
“Perubahan ini menjadi potret dari gaya hidup masyarakat saat ini,” kata Miho. Masyarakat sedang dalam proses meninggalkan pola makan yang seimbang, seperti yang biasa dihidangkan dalam menu tradisional Jepang.
“Muncul ketergantungan terhadap makanan yang berasal dari luar. Kuliner tradisional Jepang semakin tergusur, bahkan kami khawatir kekayaan kuliner itu akan hilang,” Miho menambahkan.
Dari data yang disodorkan Departemen Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang, rasio pemenuhan kebutuhan pangan dari produk lokal semakin turun, sementara ketergantungan terhadap bahan makanan dari luar meningkat.
Tahun 1985, rasio pemenuhan kebutuhan bahan makanan berdasarkan jumlah kalori dari produk dalam negeri lebih dari 50 persen, tetapi tahun 2005 hanya 39 persen. Sementara, jika dihitung berdasarkan volume, tahun 1985, sekitar 85 persen kebutuhan pangan dipenuhi oleh produk dalam negeri, tetapi tahun 2005 hanya 68 persen.
Dampak dari semua perubahan itu, menurut Miho, terlihat nyata pada kondisi kesehatan masyarakat. “Dibandingkan dengan 20 atau 10 tahun lalu, kini jumlah penduduk yang mengalami obesitas semakin tinggi. Begitu pula yang mengalami kekurangan berat badan,” ujarnya.
Berdasarkan data dari Departemen Kesehatan Jepang tahun 2005, satu dari tiga pria Jepang usia 40-60 tahun mengalami obesitas. Adapun satu dari lima perempuan usia 20-30 tahun terlalu kurus.
Selain itu, lebih dari 16,2 juta atau sekitar satu persen penduduk diduga kuat menderita diabetes, yang akan memicu munculnya penyakit-penyakit lain. Tidak hanya itu, dari hasil survei ditemukan, satu dari dua pria dan satu dari lima perempuan usia 40-74 tahun diduga kuat mengalami gangguan metabolisme.
Kondisi itu mencemaskan Pemerintah Jepang karena akan membuat kualitas manusia Jepang menurun. Untuk memperbaiki keadaan itu, dicanangkanlah gerakan “Health Japan 21″ untuk mencapai target tertentu pada tahun 2010.
“Gerakan itu bukan hanya untuk mencapai kondisi kesehatan masyarakat yang lebih baik, tetapi sebuah gerakan kependudukan untuk membangun manusia Jepang abad ke-21,” tutur Representative Director The Japan Dietetic Association Daisuke Futami.
Menurut Futami, dengan “Health Japan 21″, diharapkan, antara lain, pada tahun 2010 perempuan kurus usia 20 tahun di Jepang kurang dari 15 persen. Adapun pria usia 20-60 tahun yang mengalami obesitas kurang dari 15 persen dan perempuan 40-60 tahun yang mengalami obesitas kurang dari 20 persen.
“Tampaknya sederhana, hanya soal membentuk berat badan yang seimbang. Namun, sebenarnya itu sebuah program besar, yaitu membangun gaya hidup sehat dan seimbang pada masyarakat Jepang,” kata Daisuke.
Dipimpin perdana menteri
Tekad Jepang untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakatnya tidak tanggung-tanggung. Untuk mencapai tujuan “Health Japan 21″ tahun 2010, pada tahun 2005 pemerintah membentuk Badan Promosi Syokuiku, atau pendidikan tentang makanan, yang bertugas selama lima tahun, yaitu tahun 2006-2010. Ada sembilan target yang harus dicapai dalam program Syokuiku.
Badan itu beranggota 25 orang dan langsung dipimpin oleh perdana menteri. Anggota badan itu para menteri kabinet yang terkait dengan program Syokuiku dan orang-orang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman terkait tujuan Syokuiku.
Lembaga ini tidak hanya ada dipusat, tetapi juga dibentuk di daerah. Pemerintah provinsi dan kota terlibat dalam sosialisasi Syokuiku, begitu pula organisasi-organisasi yang ada di masyarakat.
Dana yang dianggarkan untuk mensosialisasikan Syokuiku pun tidak tanggung-tanggung, yaitu 11,3 miliar yen per tahun, atau sekitar Rp 904 miliar per tahun. Dana itu dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan, mulai dari menyebar beragam buku panduan pola makan sehat yang dirinci secara spesifik untuk anak-anak, remaja, orang dewasa, wanita hamil dan menyusui. Promosi Syokuiku ke sekolah-sekolah dan tempat penitipan anak, mendidik para guru, meningkatkan kegiatan makan siang di sekolah, melakukan berbagai kegiatan yang meningkatkan kecintaan masyarakat pada produk dalam negeri, dan sebagainya.
“Dana itu tidak seberapa dibandingkan dengan hasil yang akan dicapai. Jika gaya hidup masyarakat semakin baik, kesehatan masyarakat pun akan semakin baik. Artinya, subsidi untuk kesehatan bisa semakin kecil. Kalau kualitas hidup semakin baik, produktivitas penduduk akan semakin tinggi dan itu berdampak pada perekonomian negeri ini,” kata Daisuke.
Jepang adalah negara dengan harapan hidup tertinggi di dunia. Tahun 2006, harapan hidup perempuan Jepang 85 tahun, sementara untuk pria 75 tahun.
Belum lagi apabila kampanye untuk menggunakan bahan makanan produk lokal dan mengonsumsi menu diet tradisional Jepang berhasil, maka kehidupan petani, nelayan, dan peternak Jepang akan terjamin. Setidaknya pasar dalam negeri telah terproteksi untuk mereka. Tidak ada lagi keluhan bahwa petani, nelayan, dan peternak akan semakin tergusur dari kehidupan modern sebuah negeri. Dan, warisan kekayaan kuliner Jepang pun akan terus terpelihara dari generasi ke generasi.
Bercermin dari yang dilakukan Jepang, ternyata membangun bangsa bisa dimulai dari sarapan pagi. (Elly Roosita)
Sumber : Kompas.co.id
Komentar : Tinggalkan sebuah komentar »
Kategori : Kesehatan
Hidup Sehat ala Rasulullah Saw
11 10 20071. SELALU BANGUN SEBELUM SUBUH
Rasul selalu mengajak ummatnya untuk bangun sebelum subuh, melaksanakan sholat sunah dan sholat Fardhu, sholat subuh berjamaah. Hal ini memberi hikmah yg mendalam antara lain :
- Berlimpah pahala dari Allah
- Kesegaran udara subuh yg bagus utk kesehatan/terapi penyakit TB
- Memperkuat pikiran dan menyehatkan perasaan
2. AKTIF MENJAGA KEBERSIHAN
Rasul selalu senantiasa rapi & bersih, tiap hari kamis atau Jumaat beliau mencuci rambut-rambut halus di pipi, selalu memotong kuku, bersisir dan berminyak wangi. “Mandi pada hari Jumaat adalah wajib bagi setiap orang-orang dewasa. Demikian pula menggosok gigi dan memakai harum-haruman” (HR Muslim)
3.TIDAK PERNAH BANYAK MAKAN
Sabda Rasul : “Kami adalah sebuah kaum yang tidak makan sebelum lapar dan bila kami makan tidak terlalu banyak ( tidak sampai kekenyangan) “(Muttafaq Alaih) Dalam tubuh manusia ada 3 ruang untuk 3 benda : Sepertiga untuk udara, sepertiga untuk air dan sepertiga lainnya untuk makanan. Bahkan ada satu tarbiyyah khusus bagi ummat Islam dengan adanya Puasa Ramadhan untuk menyeimbangkan kesehatan
4. GEMAR BERJALAN KAKI
Rasul selalu berjalan kaki ke Masjid, Pasar, medan jihad, mengunjungi rumah sahabat, dan sebagainya. Dengan berjalan kaki, keringat akan mengalir, pori-pori terbuka dan peredaran darah akan berjalan lancar. Ini penting untuk mencegah penyakit jantung
5. TIDAK PEMARAH
Nasihat Rasulullah : “Jangan Marah”diulangi sampai 3 kali. Ini menunujukkan hakikat kesehatan dan kekuatan Muslim bukanlah terletak pada jasadiyah belaka, tetapi lebih jauh yaitu dilandasi oleh kebersihan dan kesehatan jiwa.
Ada terapi yang tepat untuk menahan marah :
- Mengubah posisi ketika marah, bila berdiri maka duduk, dan bila duduk maka berbaring
- Membaca Ta ‘awwudz, karena marah itu dari Syaithon
- Segeralah berwudhu
- Sholat 2 Rokaat untuk meraih ketenangan dan menghilangkan kegundahan hati
6. OPTIMIS DAN TIDAK PUTUS ASA
Sikap optimis akan memberikan dampak psikologis yang mendalam bagi kelapangan jiwa sehingga tetap sabar, istiqomah dan bekerja keras, serta tawakal kepada Allah SWT.
7. TAK PERNAH IRI HATI
Untuk menjaga stabilitas hati & kesehatan jiwa, mentalitas maka menjauhi iri hati merupakan tindakan preventif yang sangat tepat.
::Ya Allah,bersihkanlah hatiku dari sifat sifat mazmumah dan hiasilah diriku dengan sifat sifat mahmudah…: :
Komentar : 2 Komentar - komentar »
Kategori : Islam, Kesehatan
Kolak Tak Sehat Untuk Berbuka Puasa
11 10 2007Pada acara bincang-bincang Cara Mudah Mengikuti Food Combining, di Balai Sidang Jakarta, akhir pekan lalu, ahli nutrisi Wied Harry Apriadji, mengatakan kolak tidak sehat karena mengandung gula dan lemak yang terlalu tinggi. Kombinasi keduanya membuat alat pencernaan secara tiba-tiba bekerja berat, setelah sebelumnya beristirahat seharian.
Lulusan Institut Pertanian Bogor itu menyarankan agar mengikuti teladan Nabi Mohammmad SAW yang hanya makan kurma dan minum air putih untuk berbuka. Karena meskipun mengandung gula yang kadarnya cukup tinggi, dan sama-sama manis seperti kolak, karbohidrat yang dikandung kurma mudah dicerna.
“Dalam berpuasa yang harus ditekankan adalah nilai spiritualnya. Puasa akan menjadi percuma kalau kita hanya mengubah jam makan yang harusnya siang menjadi malam,” ujar Wied.
Menurut Wied, dalam analisa nutrisi, orang yang hanya minum air putih selama 40 hari tidak akan sakit dan meninggal. Kebutuhan nutrisinya juga akan terpenuhi. “Kan kalau berpuasa kita tidak banyak keinginan sehingga nutrisi tidak banyak terkuras. Saat berpuasa semuanya akan lebih tenang, nutrisi lebih dihemat,” kata konsultan gizi yang juga redaktur sebuah majalah kesehatan itu.
Wied pernah menerapkan pola makan Food Combaining dengan cara mengonsumsi buah dan sayur secara terpisah, dan porsinya sama dengan asupan karbohidrat serta protein ke dalam tubuh. Selain itu, protein dan karbohidrat juga tidak dimakan bersamaan.
Cara makan seperti itu dibuat dengan mempertimbangkan lamanya proses pencernaan dalam tubuh agar nutrisi zat makanan dapat diserap secara sempurna. Pola makan semacam itu tetap ia terapkan saat menjalankan puasa. Meskipun porsi makan menjadi lebih sedikit. Namun, dengan penyerapan yang maksimal, tubuh tetap dapat menjalankan aktivitas sehari-hari secara normal.
Sumber : SeputarKita.com
Komentar : Tinggalkan sebuah komentar »
Kategori : Islam, Kesehatan
Ponsel Perlambat Fungsi Otak
26 09 2007Berdasarkan penelitian, sering memakai ponsel dapat memperlambat aktivitas otak sekalipun masih dalam batas normal. Penelitian dilakukan terhadap 300 orang di Australia, Inggris, dan Belanda selama 2 tahun lebih.
Perbedaan aktivitas otak diukur dengan EEG (electroencephalogrphic). Fungsi syaraf kejiwaan, seperti perhatian, memori, fungsi eksekutif dan kepribadian, juga diukur.
Ternyata pemakai menunjukkan sikap ekstrovert dan berpikiran kurang terbuka. Uniknya, mereka juga menunjukkan peningkatan perhatian yang terfokus. Sekalipun begitu, aktivitas otak justru melambat saat diukur dengan kekuatan EEG, delta dan theta.
Studi tahun 1998 tentang efek jangka pendek penggunaan ponsel menunjukkan peningkatan tes kognitif pada orang yang sering menggunakan ponsel.
Sumber : Hidayatullah.com
Komentar : 1 Komentar »
Kategori : Kesehatan, Teknologi

Komentar Terakhir