Yunani penyebab krisis global ?

14 05 2010

Salah satu penyebab krisis keuangan global ternyata seorang wanita berkebangsaan Indonesia, dia akrab di panggil “Yu Nani”, mungkin dia berasal dari suku Jawa sehingga di panggil Yu. Yu mariiii.. :P

Krisis Yunani Guncang Bursa New York

New York (ANTARA News) – Pasar sahan tersungkur pada perdagangan Kamis (Jumat dini hari WIB), di mana indeks acuan Dow Jones Industrial Average (DJIA) sempat ambruk hampir 1.000 poin untuk kemudian amblas di bawah level 10.000 setelah para pelaku pasar panik dengan melakukan aksi lepas saham besar-besaran pada hampir semua jenis saham.

Dalam kurun satu jam, pasar kemudian pulih secara perlahan namun indeks DJIA tetap turun lebih dari 400 poin.

Aksi lepas saham besar-besaran terjadi menyusul ketakutan yang berketerusan mengenai berlanjutnya krisis utang Yunani, namun para analis berharap ada koreksi teknikal untuk membalikan kecenderungan pasar ini.

DJIA jatuh sekitar 8,5 persen, untuk menyentuh poin terendah 9.875. Ketika panik mereda, DJIA seketika naik lagi secepat ketika jatuh ke level 10.000.

Pada sore hari waktu New York, DJIA naik lagi ke level 10.461,07, masih turun 407,05 poin (3,75 persen) dibandingkan penutupan sebelumnya, sedangkan Nasdaq turun 79,93 poin di level 2.322,36. Hal sama terjadi pada Indeks Standard & Poors 500 yang turun 41,90 poin ke posisi 1,124.

Penurunan terjadi setelah pasar saham AS dibuka bertahan cenderung stagnan akibat pengaruh menanti gambaran angkatan kerja dan produktivitas ekonomi AS.

Indeks perlahan bergerak turun, namun DJIA turun perlahan hingga 100 poin sepanjang perdagangan sore itu (Jumat dini hari WIB).

Keprihatian atas krisis utang Yunani yang memperburuk sentimen pasar sepanjang minggu ini, makin menekan DJIA hingga terperosok tiga digit pada perdagangan Selasa lalu.

Namun investor mengambil posisi “wait and see” di perdagangan Kamis waktu AS ini menunggu gambaran data pengangguran AS yang akan dirilis akhir pekan ini sebelum mereka kemudian memastikan posisi transaksinya.

Sikap “wait and see” ini berlangsung hingga pukul 18.30 GMT (01.30 WIB), ketika aksi lepas saham besar-besaran mulai terjadi.

Dalam 15 menit transaksi, DJIA tenggelam di level yang tidak pernah terjadi sejak krisis keuangan AS lalu, manakala para pemodal mencampakkan saham-saham dengan menukarnya ke obligasi.

Laju penurunan saham yang demikian cepat ini membersitkan pertanyaan mengenai kemungkinan ada arus pembalikan teknikal.

“Kami tak tahu, saat ini kami mencermati hal itu. Semua ini spekulasi,” kata Juru Bicara Bursa Efek Ne York (NYSE) Christian Braakman.

Baru-baru ini juru bicara IMF telah mencoba meredakan panik pasar akibat Krisis Utang Yunani dengan mengatakan “default” (gagal bayar) kepada Yunani bukan opsi yang baik.

“Default tidak menjadi pilihan, dan tidak pernah menjadi pilihan,” kata Direktur Hubungan Eksternal IMF Caroline Atkinson.

“Pihak berwenang Yunani sendiri berulangkali menegaskan itu,” kata Atkinson seraya menambahkan bahwa Presiden Bank Sentral Eropa Jean-Claude Trichet juga menyatakan “default” utang Yunani adalah di luar pembahasan solusi masalah. (*)

AFP/Jafar

Sumber : http://www.antaranews.com/berita/1273176756/krisis-yunani-guncang-bursa-new-york





Manajemen Sedikit

12 12 2007

Mas Bambang, seorang veteran bisnis yang telah bergelut dalam dunia bisnis lebih dari 40 tahun punya resep yang unik, dia beliau menyebutnya: “Manajemen Sedikit”. Secara prinsip Mas Bambang mengaku dia lebih senang berbuat sedikit mungkin, terutama dalam mencampuri urusan manajemen di kantor.

Mas Bambang berdalih Manajemen Sedikit ibaratnya memasak dengan oven microwave. Tingal pencet satu tombol. Selesai. Berlainan dengan gaya manajemen yang biasa, menurut Mas Bambang, lebih mirip dengan memasak cara tradisional. Butuh waktu dan usaha komplit yang lebih njelimet.

Mulanya saya bingung mendengarnya. Barulah ketika ngobrol lebih dalam dengan para crew dan staff di kantor Mas Bambang, saya baru mengerti apa yang dimaksudkan oleh Mas Bambang sebagai Manajemen Sedikit. Rupanya Mas Bambang orangnya sangat penyabar, jarang marah, dan senang memotivasi para pekerjanya untuk maju ke depan, secara agresif dan kreatif.

Setiap kali mereka memulai sebuah proyek, Mas Bambang lebih senang menyemai bibit. Begitu istilah beliau. Setelah itu Mas Bambang lebih senang mundur ke belakang dan sepenuhnya memberikan kebebasan bagi karyawannya untuk menunjukan karya dan prestasi mereka.

Hanya sekali-kali Mas Bambang memberikan dorongan kecil. Pokoknya Mas Bambang berusaha untuk sedikit mungkin mencampuri manajemen. Hasilnya memang ajaib.

Karyawan merasa mendapatkan kepercayaan penuh dari Mas Bambang, dan disiplin mereka untuk bertanggung jawab ternyata sangat tinggi. Mereka juga punya rasa optimisme dan percaya diri yang optimal. Saya jadi ingat sebuah buku kecil yang ditulis oleh Chin Ning Chu yang berjudul “Do Less Achieve More”. Buku yang ditulis pada 1998 itu, hingga kini masih menjadi salah satu buku favorit saya.

Chin menulis bahwa, kata sibuk dalam bahasa Cina terdiri dari dua simbol piktogram. Yang pertama merupakan simbol piktogram yang berarti jantung. Dan yang kedua adalah piktogram dengan simbol kematian. Artinya kalau kita terlampau sibuk tidak keruan, maka kematian adalah kutukan yang membayangi kita sehari-hari.

Mas Bambang bercerita bahwa dahulu dia pernah memiliki seorang general manajer yang sangat rajin, tetapi juga terlampau ketat ingin mengontrol semuanya. Akibatnya seluruh stafnya merasa stress. Produktivitas bukan meningkat tetapi justru semakin menurun. Mas Bambang akhirnya memecat sang general manajer.

Dia memerdekakan para staf dan karyawannya dari perasaan stress dan tertekan. Mas Bambang berusaha menciptakan sebuah lingkungan kerja yang memiliki dimensi unik, di mana semuanya merasa mudah, sehingga staf dan karyawannya lebih kreatif menciptakan terobosan dan inovasi.

Beberapa hari sebelum puasa, saya diajak Mpu Peniti makan soto daging kesukaan beliau. Pulang makan soto, saya diberi oleh-oleh dua lembar uang seribuan. Yang satu pecahan seribuan yang mungkin beredar pada 1970-an dan sudah tidak lagi laku. Yang kedua pecahan seribuan yang masih beredar saat ini. Kedua lembar uang seribuan itu nampak sangat baru, seperti baru keluar dari mesin cetak.

Saya bingung tidak keruan, karena tidak mengerti apa ulah Mpu Peniti. Akhirnya dengan senyum-senyum beliau bertanya kepada saya, mana di antaranya kedua lembar uang ribuan itu yang paling berharga. Saya beraksi secara refleks menunjuk lembaran uang ribuan yang masih berlaku saat itu. Tetapi Mpu Peniti malah menggeleng.

Beliau bertutur, bahwa lembaran uang ribuan yang sudah tidak berlaku lagi malah justru yang paling berharga. Karena 30 tahun yang lalu, selembar uang ribuan itu merupakan bagian dari kenaikan gaji Mpu Peniti saat itu. Saking girangnya, Mpu Peniti saat itu, sampai ia menyimpan seribu rupiah, yang saat itu sangat banyak jumlahnya sebagai kenang-kenangan. Secara historis uang ribuan itu punya nilai yang tak terhingga.

Berlainan dengan lembaran ribuan satunya lagi, yang memang didapat Mpu Peniti dari bank, dan nilainya memang cuma seribu perak. Dan seribu perak saat ini, terkadang tidak cukup untuk membeli nasi bungkus atau biaya parkir sekalipun.

Mpu Peniti berpesan kepada saya, bahwa kadang yang kelihatannya sangat sedikit sekali nilainya, tidak jarang justru yang paling berharga. Dalam bulan suci Ramadhan ini, di mana kita akan menjalankan ibadah puasa, dan sekaligus berlatih menahan nafsu.

Di saat bersamaan kita juga diberikan kesempatan yang sama untuk menghargai semuanya yang serba sedikit dan semuanya yang serba kekurangan. Kita diingatkan untuk berani mengorbankan yang berlimpah. Dan memilih yang sedikit. Karena sesungguhnya yang sedikit ini, tidak jarang lebih sehat dan lebih membahagiakan kita.

Sumber: Manajemen Sedikit oleh Kafi Kurnia





Menghargai Pekerjaan

5 12 2007

Tiga bulan lalu, Helen memanggil beberapa calon karyawan untuk wawancara. Dari seluruh pelamar yang dipanggil, Helen tertarik dengan dua orang yang dinilai paling cocok.  Salah seorang, sebut saja bernama Nana, adalah seorang fresh graduate. Nana belum pernah bekerja, baru lulus D3 langsung mengirimkan surat lamaran. Dilihat dari angka akademiknya cukup bagus, penampilannya di foto juga oke, maka Nana termasuk dipanggil untuk wawancara pertama.

Ketika datang ke kantor untuk wawancara pertama, Nana tampil oke. Sebagai seorang fresh graduate, penampilannya lebih baik dari yang lain. Seakan-akan dia sudah pernah bekerja. Setelah wawancara selesai, Nana keluar dan melewati ruang resepsionis, Helen tanpa sengaja melihat bahwa Nana tidak berpamitan kepada resepsionis, bahkan tersenyum pun tidak.

Seorang calon lain, sebut saja bernama Wati, juga menarik perhatiannya. Sama seperti Nana, dia juga seorang fresh graduate. Hanya bedanya, Wati pernah bekerja di sebuah perusahaan selama tiga bulan. Di perusahaan tersebut, Wati merasakan susahnya bekerja. Dia tidak boleh seenaknya keluar dari kantor.

Waktu makan siang pun dibatasi. Untuk minta ijin tidak masuk kerja juga sangat sulit, sehingga dia selalu memilih tetap masuk kerja meskipun sedang sakit. Untungnya dia hanya pernah sakit flu dua kali. Bukan penyakit yang termasuk parah.

Waktu dipanggil untuk wawancara, Wati minta agar boleh datang setelah jam kerja. Helen setuju. Ketika datang, Wati berpenampilan rapi dan sederhana. Dia dengan cepat menjawab semua pertanyaan. Ketika datang, dia menyapa resepsonis dengan ramah. Ketika pulang dia juga berpamitan dengan office girl yang kebetulan menunggu di samping meja resepsionis. Sopan dan tulus.

Setelah melalui berbagai test, akhirnya kedua orang ini, Nana dan Wati, diterima bekerja di bagian marketing. Keduanya sama-sama belum berpengalaman di bidang marketing. Karena itu, mereka berdua harus sama-sama belajar. Dari pengetahuan produk hingga cara melakukan pendekatan, cara menjual dan sebagainya.

Nana tampaknya mudah mengerti apabila diberitahu mengenai sesuatu. Langsung berkata “Ya pak, ya pak.” Sehingga atasannya menilai Nana sangat cepat belajar. Sebaliknya Wati banyak bertanya apabila diberitahu mengenai sesuatu. Kadang-kadang harus diulang sekali lagi, baru Wati tampak puas dan mengerti.

Lapor perkembangan

Setiap akhir bulan dia melapor kepada Helen mengenai perkembangan Nana dan Wati. Kesannya terhadap mereka berdua cukup positif, sehingga Helen mulai berpikir untuk mempertahankan mereka berdua setelah selesai masa percobaan.

Seperti biasa, Helen juga seringkali melakukan kunjungan keliling ke semua departemen, terutama yang ada karyawan barunya.

Ternyata apa yang ditemuinya di lapangan sangat mengejutkan Helen. Hampir dalam segala hal, Nana selalu bertanya kepada teman-teman lain atau minta bantuan mereka untuk mengerjakan semua pekerjaannya.

Ternyata semua penjelasan dari atasannya tidak dimengerti sama sekali olehnya. Setiap kali atasannya selesai menjelaskan sesuatu dan beliau berlalu, maka segera Nana ribut bertanya kepada yang lain sambil berkeluh kesah.

Bahkan, seringkali Wati mengerjakan pekerjaan Nana, bukan hanya membantunya saja. Begitu pula setiap kali Nana menerima perintah dari atasannya untuk melakukan sesuatu, selalu dia berkeluh kesah panjang lebar.

Misalnya ketika dia diminta menelepon salah seorang pelanggan yang sudah lama tidak berhubungan lagi dengan perusahaan tersebut, Nana mengeluh dengan bersuara keras:”Ah! Sebel deh! Disuruh-suruh melulu! Harus menelepon orang lagi! Reseh!”

Dan sialnya, Helen mendengar langsung keluhan Nana ketika kebetulan dia berada di pintu masuk ruangan marketing. Segera Helen memanggilnya dan menanyakan hal itu, tapi Nana hanya minta maaf saja sambil tersenyum-senyum

Begitu juga ketika dia harus pergi mengunjungi salah seorang pelanggan penting, Nana berkeluh kesah seperti biasa. “Huuuh! Sebel! Masa gua harus pergi lagi! Kan cape?! Masa disuruh-suruh lagi!”. Lalu dia mengajak Wati dan pergi sambil cemberut.

Berbeda dengan Wati. Perintah apapun langsung dikerjakan dengan penuh semangat. Disuruh kemana pun, Wati siap. Cara kerjanya juga cepat. Dia tidak pernah mengeluh. Bahkan, dia tidak pernah keberatan membantu pekerjaan Nana sambil mengerjakan tugasnya sendiri.

Dan, diakhir masa percobaan, bisa ditebak siapa yang dinyatakan lolos dan siapa yang tidak. Helen melihat, Wati sangat menghargai pekerjaannya yang sekarang karena dia pernah merasakan betapa beratnya bekerja di tempat kerja sebelumnya.

Di perusahaan yang sekarang Wati sangat bersyukur karena atasannya tidak segalak dulu. Atasannya mempercayainya, tidak cerewet, dan memperlakukannya dengan wajar. Jadi Wati sangat menikmati pekerjaannya yang sekarang.

Sebaliknya Nana menganggap kebaikan atasannya sebagai suatu kesempatan untuk bisa berbuat seenaknya tanpa takut dimarahi. Dia menganggap atasannya pasti tidak akan marah kepadanya. Dia masih menganggap pekerjaan sebagai suatu kegiatan sosial yang sering dilakukannya.

Karena itu Nana merasa berhak untuk merasa kesal kalau disuruh-suruh. Nana belum bisa menghargai pekerjaannya.

Hargai pekerjaan Anda. Love Your Job!

Sumber: Menghargai Pekerjaan oleh Lisa Nuryanti





Transaksi Dunia Maya Akan Dikenakan PPh

4 10 2007

Panitia Kerja untuk Rancangan Perubahan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000 tentang Pajak Penghasilan atau PPh dan pemerintah menyepakati ide baru dalam pengenaan PPh, yakni dibebankan pada seluruh transaksi di dunia maya. Langkah ini dilakukan karena nilai transaksi di dunia maya dipercaya sangat besar, sehingga pemerintah perlu memperluas basis pajaknya hingga di area ini.

“Kami sudah sepakat dengan ide itu, karena area maya ini memang harus dikenakan pajak,” ujar Ketua Panitia Kerja Rancangan Perubahan Undang-undang (UU) Nomor 17 Tahun 2000 tentang PPh Max Moein di Jakarta, Kamis (4/10), sesudah memimpin rapat kerja dengan Dirjen Pajak Darmin Nasution terkait perubahan UU PPh tersebut.

Menurut Max, pengenaan pajak pada transaksi di dunia maya itu masih memerlukan penyesuaian dengan RUU Informasi dan Transaksi Elektronis yang sedang dibahas di Komisi VI DPR. “Dengan demikian pembahasannya masih perlu diperdalam, baik subjek maupun objek pajaknya, agar lebih jelas,” katanya.

Anggota Panitia Kerja Rancangan Perubahan Undang-undang (UU) Nomor 17 Tahun 2000 tentang PPh  dari Fraksi Partai Amanat Nasional, Dradjad H Wibowo mengatakan, Indonesia bisa membuat terobosan baru di dunia jika mampu menghasilkan aturan pajak bagi transaksi maya ini. Hal tersebut disebabkan belum ada satu negara pun yang mampu menetapkan subjek dan objek pajak atas transaksi di dunia maya tersebut hingga saat ini.

“Cakupannya sangat luas, dan sebagian besar belum dikenakan pajak,” ujar Dradjad. (Oin)

Sumber : www.kompas.co.id 





Menyikapi Penipuan Berkedok Investasi

18 08 2007

Lin Che Wei

Tidak peduli apakah regulator dan pemerintah hendak mengakui atau tidak, Indonesia bagaikan surga bagi perusahaan yang melakukan penipuan berkedok investasi. Pertimbangkan hal ini!

Wakil kita yang mengurusi masalah perbankan dan keuangan di DPR—yang dapat dengan mudah mencari dan menyelidiki informasi tentang lembaga keuangan—malah menjadi korban penipuan berkedok investasi.

Pemimpin media terkemuka—yang bisa dianggap sangat pandai dan kritis terhadap isu-isu terkini—malah menjadi korban penipuan berkedok investasi.

Mantan direktur badan usaha milik negara, yang seharusnya mengerti risiko dan seharusnya dapat membedakan mana perusahaan yang bonafide dan mana yang tidak, juga menjadi korban penipuan berkedok investasi.

Apabila orang-orang pandai yang mempunyai akses terhadap informasi menjadi korban penipuan lantas bagaimana rakyat kecil yang tidak terpelajar?

Penipuan berkedok investasi memancing orang yang serakah dan desperate dengan janji akan imbal hasil (return) yang tinggi. Bukankah berdasarkan prinsip let the buyer beware, investor seharusnya berhati-hati dengan membaca fine print secara saksama sebelum melakukan investasi?

Di dunia yang ideal, memang hal ini yang seharusnya terjadi. Namun, negara dengan masyarakatnya yang belum benar-benar mengerti seluk-beluk investasi bukanlah dunia yang ideal.

Orang-orang yang menjadi korban tidak mempunyai cukup data dan informasi untuk membedakan mana investasi yang kredibel dan yang tidak.

Akibatnya, bisnis penipuan berkedok investasi dengan mudah memancing orang yang nekat (desperate) akan janji imbal hasil (return) yang tinggi.

Apa yang menjadi taktik dari perusahaan berkedok investasi ini? Mereka tahu bahwa sikap manusia adalah serakah dan tidak pernah merasa cukup.

Skema modern.
Perusahaan-perusahaan investasi bodong tersebut tahu bahwa jika para investor awal mendapatkan return sesuai dengan yang dijanjikan, mereka akan cenderung menginvestasikan kembali hasil dari uang tersebut dan bahkan akan membawa keluarga, teman, atau relasinya untuk turut berinvestasi di perusahaan tersebut. Akibatnya, jumlah kerugian juga cenderung membengkak.

Skema dasar dari berbagai penipuan berkedok investasi adalah skema Ponzi, yaitu penipuan yang menjanjikan return luar biasa besar yang sebenarnya didapatkan dari uang investor lain yang menginvestasikan uangnya belakangan dan bukan dari hasil pengelolaan uang para investor tersebut.

Investor awal akan mendapatkan keuntungan karena langsung mendapatkan pengembalian sehingga terdorong untuk menginvestasikan lebih banyak lagi, sedangkan investor yang masuk belakangan akan lebih rentan terhadap ketiadaan return tinggi tersebut.

Nama Ponzi sendiri diambil dari nama Charles Ponzi, imigran asal Italia yang menggunakan teknik ini untuk melakukan penipuan besar-besaran di Amerika Serikat pada tahun 1919-1920 dan 1926-1934.

Model lain yang memiliki kesamaan dengan skema Ponzi adalah skema piramida. Dalam skema ini, perekrutan terhadap investor baru merupakan sumber dari pengembalian investasi Anda.

Investor yang merekrut investor baru akan mendapat keuntungan langsung dari upayanya tersebut.

Selain kedua skema di atas, masih ada beberapa skema modern yang bisa disebut sebagai skema turunan dari skema di atas. Misalnya, arisan berantai atau money game.
Arisan berantai adalah skema piramida yang disebarkan dalam bentuk surat kaleng dan besaran investasi yang kecil.

Kedua, high yield investment programme, yaitu investasi dengan modal awal kecil yang menjanjikan tingkat pengembalian fantastis serta komisi atas usaha Anda mengajak orang lain untuk bergabung. Skema ini banyak dikenal dengan “bank gelap” di Indonesia.

Ketiga, penipuan berkedok penggarapan lahan agrobisnis, seperti QSAR dan Ibist.

Keempat, penipuan yang berkedok perdagangan valuta asing.

Kelima, berkedok lowongan pekerjaan yang mengharuskan Anda membayar untuk pelatihan atau justru meminta Anda memasukkan uang terlebih dahulu sebagai prasyarat.

Bagaimana caranya menghindari jenis-jenis penipuan seperti di atas? Anda dapat mengidentifikasinya apabila menemukan beberapa ciri yang disebutkan di bawah ini:

Pertama, hati-hati apabila the offer sounds too good to be true. Jika penawaran investasi tersebut memberikan “janji-janji surga” akan imbal hasil tinggi di atas rata-rata pasar dalam jangka waktu yang relatif singkat, kemungkinan besar penawaran tersebut memang hanyalah “janji-janji surga”.

Kedua, taktik penjualan yang memaksa (high pressure sales tactics.) Jangan langsung termakan bujuk rayu penjual yang memaksa Anda untuk membuat keputusan saat itu juga, sekalipun penjual itu adalah orang yang Anda kenal baik sejak lama.

Ketiga, baik perusahaan investasi maupun basis investasinya (underlying investment) tidak jelas. Perusahaan investasi tipuan biasanya akan menunjukkan kepada Anda profil perusahaan yang tampak profesional dengan harapan dapat meyakinkan Anda akan kredibilitas mereka.

Namun, apabila Anda baca dengan saksama, terdapat banyak kejanggalan. Kejanggalan itu antara lain ketidakjelasan manajemen pengurus, kinerja investasi, maupun laporan keuangan yang lengkap dan sudah diaudit.

Keempat, ketiadaan izin penawaran investasi dari lembaga pengawas. Bank Indonesia bertindak sebagai regulator perbankan, sedangkan Bapepam-LK bertindak sebagai regulator lembaga keuangan bukan bank.

Dua lembaga tersebut memiliki kewenangan untuk mengawasi investasi yang ditawarkan melalui lembaga keuangan nonbank maupun perbankan.

Sayangnya, dua lembaga di atas tidak memiliki kewenangan atas produk investasi yang ditawarkan oleh lembaga nonkeuangan sehingga muncullah no man’s land yang rentan digunakan untuk penipuan berkedok investasi.

Anda sepatutnya berhati-hati bila menerima penawaran investasi tanpa izin dari salah satu lembaga pengawas di atas.

Anda korban?
Apabila telah menjadi korban penipuan berkedok investasi, apa yang harus Anda lakukan?

Pertama, Anda harus melaporkan kepada pihak yang berwajib. Berikan keterangan selengkap mungkin, seperti siapa yang menghubungi Anda dan bagaimana orang tersebut menghubungi Anda.

Semakin lengkap informasi yang Anda berikan, semakin mudah terbaca pola dan jejaringnya. Setelah itu, Anda harus menghubungi divisi legal dari Bapepam-LK serta pengacara yang khusus menangani kasus sejenis.

Selanjutnya, ajukan tuntutan hukum terhadap para pelaku penipuan. Keputusan Anda untuk menempuh jalur hukum mungkin tidak akan mengembalikan jumlah uang Anda yang telah raib.

Akan tetapi, tindakan Anda ini akan meningkatkan kesadaran di kalangan publik. Pihak berwajib akan terdorong untuk mengambil tindakan dan masyarakat lain akan lebih berhati-hati dengan tawaran-tawaran investasi sejenis.

Mungkin sekarang Anda bertanya-tanya, “Jadi, apa saja yang telah dilakukan oleh regulator, pemerintah, dan DPR kita selama ini?” Sebagian besar dari mereka terlena dan merasa ini bukanlah tanggung jawab mereka.

Yang lebih tragis, ada anggota Dewan yang seharusnya mengawasi sektor keuangan justru ikut menjadi korban penipuan.

Apa pun alasannya, penipuan berkedok investasi haruslah diberantas di Indonesia. Bapepam-LK, Departemen Perdagangan, Bank Indonesia, dan DPR bertanggung jawab untuk melindungi orang yang miskin, tidak berdaya, dan tidak mempunyai informasi.

Kita semua harus berusaha bersama-sama untuk menghentikan praktik penipuan ini yang secara terus-menerus mengerosi kepercayaan masyarakat terhadap dunia investasi secara keseluruhan.

Regulator dan seluruh lapisan masyarakat perlu berdiri dan mengatakan, “Cukup sudah praktik penipuan berkedok investasi seperti ini.”

Perusahaan-perusahaan seperti ini bukan saja harus dilarang secara hukum, tetapi juga harus dilakukan penindakan dan diproses secara hukum.

Salah satu kalimat yang paling sering dikutip di Wall Street adalah kalimat yang diucapkan Gordon Gekko dalam film Wall Street, “Serakah itu baik.”

Namun, janganlah karena kalimat ini akal sehat Anda menjadi silau oleh ketamakan akan iming-iming hasil yang tinggi serta ketakutan akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan hasil tinggi dari investasi itu.

Ingatlah pula kalimat yang diucapkan Henry David Thoreau bahwa kebaikan adalah satu-satunya investasi yang tidak pernah gagal.

Penulis : Lin Che Wei Direktur Utama Danareksa Neda dan Yoga berkontribusi dalam artikel ini