Lirik Lagu Dangdut SMS Versi Inggris

6 08 2007

Bang, tell me who send this short message Bang
Bang, this message with those words of honey;
Bang, it must come from your girlfriend Abang
Bang, it has caused me feel so uneasy

Bang, please give me your answer now Abang
Bang, I will throw you mobile phone away
Bang, please tell me the truth right now Abang
Bang, if you love me anyway

Reff:
When you talk in argument
You are so good with reasons
Obviously you’ve wrong statement
Still going with your reasons

You tell me wrong number lah
You tell me someone’s joke lah
You tell me wrong number lah
You tell me someone’s joke lah

Starting this very moment, your mobile phone will be mine

Back to start 2x





Mules

6 08 2007

Cerita berikut merupakan kisah nyata, pengalaman dari seorang pria berkebangsaan Indonesia di Changi Airport waktu menunggu pesawat pulang ke Indonesia:

Entah kenapa tiba-tiba perut saya terasa mulas. Langsung saja saya masuk ke WC yang saat itu kebetulan sepi.Belum semenit duduk, saya denger suara bapak-bapak berkata: “Gimana dik? Baik aja?” Kedengarannya dari WC sebelah. Kaget juga, darimana dia tahu saya orang Indonesia. Karena saya nggak biasa ngobrol sama orang yang belum dikenal, maka saya jawab aja: “Ya, baik”. Eh, dia nanya lagi: “Sekarang gimana, sudah krasa lega?”. Wah pertanyaan macam apa itu? Ada-ada saja. Baru juga nongkrong semenit, jadi saya jawab sekenanya aja: “Lumayan”. Dia jawab lagi : “Sama dong….tapi saya ada masalah dikit nih”. Saya mulai curiga, lalu gantian saya yang tanya : “Masalah apa, pak?” Dia langsung jawab : “Iniii…..ada orang culun di WC sebelah ikut-ikutan njawab pertanyaan saya, gimana kalo nanti saya telpon lagi? Ya….sampai nanti…..”.





Kisah Si Penebang Pohon

6 08 2007

“Kan Shu De Gu Shi”

Alkisah, seorang pedagang kayu menerima lamaran seorang pekerja untuk menebang pohon di hutannya. Karena gaji yang dijanjikan dan kondisi kerja yang bakal diterima sangat baik, sehingga si calon penebang pohon itu pun bertekad untuk bekerja sebaik mungkin.

Saat mulai bekerja, si majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerja yang harus diselesaikan dengan target waktu yang telah ditentukan kepada si penebang pohon.

Hari pertama bekerja, dia berhasil merobohkan 8 batang pohon. Sore hari, mendengar hasil kerja si penebang, sang majikan terkesan dan memberikan pujian dengan tulus, “Hasil kerjamu sungguh luar biasa! Saya sangat kagum dengan kemampuanmu menebang pohon-pohon itu. Belum  pernah ada yang sepertimu sebelum ini. Teruskan bekerja seperti itu.”

Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari si penebang bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 7 batang pohon. Hari ketiga, dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hasilnya tetap tidak memuaskan bahkan mengecewakan. Semakin bertambahnya hari, semakin sedikit pohon yang berhasil dirobohkan. “Sepertinya aku telah kehilangan kemampuan dan kekuatanku. Bagaimana aku dapat mempertanggungjawab kan hasil kerjaku kepada majikan?” pikir penebang pohon merasa malu dan putus asa. Dengan kepala tertunduk dia menghadap ke sang majikan, meminta maaf atas hasil kerja yang kurang memadai dan mengeluh tidak mengerti apa yang telah terjadi.

Sang majikan menyimak dan bertanya kepadanya, “Kapan terakhir kamu mengasah kapak?”

“Mengasah kapak? Saya tidak punya waktu untuk itu. Saya sangat sibuk setiap hari menebang pohon dari pagi hingga sore dengan sekuat tenaga,” kata si penebang.

“Nah, di sinilah masalahnya. Ingat, hari pertama kamu kerja? Dengan kapak baru dan terasah, maka kamu bisa menebang pohon dengan hasil luar biasa. Hari-hari berikutnya, dengan tenaga yang sama, menggunakan kapak yang sama tetapi tidak diasah, kamu tahu sendiri, hasilnya semakin menurun. Maka, sesibuk apa pun, kamu harus meluangkan waktu untuk mengasah kapakmu, agar setiap hari bekerja dengan tenaga yang sama dan hasil yang maksimal. Sekarang mulailah mengasah kapakmu dan segera kembali bekerja!” perintah sang majikan.

Sambil mengangguk-anggukan kepala dan mengucap terimakasih, si penebang berlalu dari hadapan majikannya untuk mulai mengasah kapak.

“Xiu Xi Bu Shi Zou Deng Yu Chang De Lu”

Istirahat bukan berarti berhenti.

“Er Shi Yao Zou Geng Chang De Lu”

Tetapi untuk menempuh perjalanan yang lebih jauh lagi.

Sama seperti si penebang pohon, kita pun setiap hari, dari pagi hingga malam hari, seolah terjebak dalam rutinitas terpola. Sibuk, sibuk dan sibuk, sehingga seringkali melupakan sisi lain yang sama pentingnya, yaitu istirahat sejenak mengasah dan mengisi hal-hal baru untuk menambah pengetahuan, wawasan dan spiritual. Jika kita mampu mengatur ritme kegiatan seperti ini, pasti kehidupan kita akan menjadi dinamis, berwawasan dan selalu baru!

Sumber: Kisah Si Penebang Pohon oleh Andrie Wongso





Junglish

6 08 2007

What is Junglish? Jungle English.. like one mentioned below:

Javelish.. The typical Javanese language: ‘lho’, ‘lha’, ‘tho’, ‘kok’,'ki’, etc
- Lho, I already bought that book !
- Kok, buying again ?
- I told you many times ‘tho’ !
- Lha, I didn’t know tho yo… how ki !?
- Don’t be like that, no….!?

Jakartenglish. . Jakarte English is marked by the ‘sih’, ‘deh’, ‘dong’, ‘nih’, etc
- That book is very good, deh.
- Can you speak english?.. yeah a little sih I can!
- Use my money first nih..
- Give me more dong..
- How sih? Little little angry..

Surobenglish is marked by ‘tah’ and the famous word is ‘diancuk’
-Do you feel sick, tah ?
-Diancuk… he took my money !

Other exclamation words of Java: ‘wo_’, ‘wah’, ‘wé_’, ‘jian’, and ‘jé_’
- Wé_ lha this book is mine jé…!
- Wo_, only like that tho!
- Wah, expensive, tho?
- Jian, Paijem is so beautiful tenan.

Sundanglish is also available such as ‘atuh’, ‘euy’, ‘mah’
- Well, if that kind, it pretty so-so atuh
- It can’t be that way euy..
- I am mah, not like that… anything else ?

There are also abundant ‘sound effect’ in Javanesse language.
- Suddenly, mak bedhengus den Tukiman appeared
- My head feels pain, mak cleng!
- Mak tlepok, I got a manggo !
- My chicken is suddenly died, mak cekengkeng
- Mak gedebug, Kampreté fell down.
- Mak jegagik…. Oh, trondholo





Bangkit Dari Keterpurukan

6 08 2007

“Jika Anda mau menerima kegagalan dan belajar darinya, jika Anda mau menganggap kegagalan merupakan sebuah karunia yg tersembunyi dan bangkit kembali, maka Anda memiliki potensi menggunakan salah satu sumber kekuatan paling hebat untuk meraih kesuksesan.” ~ Joseph Sugarman

Kehidupan kita tak akan pernah berjalan semulus yang kita pikirkan. Berbagai macam tantangan, misalnya kehilangan pekerjaan atau orang-orang yang dicintai, disabotase, bangkrut dan lain sebagainya, bisa saja menyeret kita dalam keterpurukan. Bila kita melihat ke sekeliling, begitu banyak orang-orang yang tenggelam dalam keterpurukan dan terjerat cukup lama dalam kegelapan, misalnya menjadi pecandu narkoba, budak hutang dan kemiskinan, korupsi atau melakukan tindak kejahatan lainnya lalu dipenjarakan, dan bentuk kemalangan lainnya.

Bila kita cukup cerdas dalam menghadapi tantangan kehidupan, bermacam bentuk benturan keras seperti itu seharusnya tidak membuat kita semakin terpuruk. Tantangan kehidupan adalah kesempatan untuk introspeksi diri. Benturan keras dalam kehidupan akan menjadikan kita lebih mulia, jika kita segera sadar atas kekeliruan yang telah dilakukan, kelemahan yang harus diperbaiki, kembali menyusun dan melaksanakan rencana dengan lebih baik.

“Remember the two benefits of failure. First, if you do fail, you learn what doesn’t work; and second, the failure gives you the opportunity to try new approach. – Ingatlah 2 keuntungan yang kita peroleh dari kegagalan. Yang pertama adalah mempelajari apa yang tidak berjalan dengan baik; dan kedua adalah menjadi kesempatan bagi kita untuk mencoba pendekatan baru,” kata Roger Van Oech.

Menurut Roger, tantangan kehidupan adalah bagian dari perjalanan hidup supaya kita menjadi lebih cerdas menghadapi tantangan kehidupan. Tokoh-tokoh terkenal dan sukses, misalnya Walt Disney, Soichiro Honda, Thomas Edison, Wright Bros, Fred Smith, Mohamad Ali, Henry Ford, Bill Gates, Steve Jobs, Oprah Winfrey, Christoper Columbus, Anthony Robins, dan lain sebagainya, sudah pernah mengalami keras dan sakitnya kehidupan. Tetapi semua pengalaman pahit tersebut justru membimbing mereka ke gerbang kesuksesan.

Kesuksesan mereka bukan semata-mata dipengaruhi oleh faktor pendidikan ataupun modal, apalagi faktor kebetulan. Mereka berhasil lantaran kekuatan dan kecerdasan mereka menghadapi tantangan kehidupan. Menurut Paul G. Stoltz, Phd, dalam bukunya berjudul Adversity Quotient (AQ), ada tiga tipe manusia dalam analogi mendaki gunung:
1. Quitters – orang-orang yang mudah menyerah, sehingga kehidupan mereka semakin terpuruk dalam kemalangan.
2. Campers – orang-orang yang mudah puas dengan apa yang sudah dicapai, sehingga kehidupan mereka biasa-biasa saja.
3. Climbers – orang-orang yang selalu optimis, berpikir positif dan terus bersemangat kerja sampai benar-benar mendapatkan yang mereka inginkan.

Contoh dari tipe orang ke tiga adalah orang-orang yang sukses di dunia ini. Selalu memanfaatkan kesempatan untuk maju dan pulih dari keterpurukan adalah ciri khas mereka yang utama. Tak mengherankan jika mereka melalui setiap rintangan dengan tabah, berjuang keras, dan mental yang kuat.

Tantangan kehidupan memang tidak pernah ada habisnya. Tetapi selama kita terus berusaha memperbaiki diri dan strategi ditambah dengan kesadaran spiritual yang lebih dalam, maka kita akan dapat mencapai tujuan tertinggi. “Our greatest glory is not in never falling, but in rising everytime we fail. – Kejayaan tertinggi bukan karena kita tidak pernah jatuh, melainkan karena kita selalu bangkit lagi ketika gagal,” cetus Confucius.

Oleh sebab itu, perbaiki diri terus-menerus, jangan menunggu sampai kemalangan itu benar-benar datang. Mantapkan keyakinan ketika membuat perencanaan dan menetapkan target yang memungkinkan tercapai. Kemudian langsung melakukan langkah-langkah untuk memastikan hasil maksimal, dengan penuh komitmen dan kerja keras, kecintaan dan semangat. Dengan demikian kita akan memiliki kepekaan sekaligus keseimbangan disaat harus menghadapi tantangan kehidupan yang cukup keras.

Mulai detik ini tanyakanlah pada diri sendiri seberapa besar pengaruh positif yang telah Anda dapatkan atas berbagai situasi yang Anda alami? Pastikan tantangan hidup selama ini membawa Anda pada kedewasaan, kebijaksanaan dan kualitas spiritual yang lebih baik. Dengan demikian Anda akan dapat menilai apakah Anda sudah mampu bangkit dan menjadi manusia yang lebih mulia atau belum.[aho]

Sumber: Bangkit Dari Keterpurukan oleh Andrew Ho, motivator,
pengusaha, dan penulis buku-buku bestseller.





1 Tamparan Untuk 3 Pertanyaan

6 08 2007

Ada seorang pemuda yang lama sekolah di luar negeri, kembali ke tanah air.
Sesampainya di rumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencarikan seorang guru agama, kyai atau siapa saja yang bisa menjawab 3 pertanyaannya.
Akhirnya orang tua pemuda itu mendapatkan orang tersebut, seorang kyai.

Pemuda: Anda siapa dan apakah bisa menjawab pertanyaan-pertanya an saya?
Kyai: Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan anda.

Pemuda: Anda yakin? Sedangkan Profesor dan ramai orang yang pintar tidak mampu menjawab pertanyaan saya.
Kyai: Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya.

Pemuda: Saya ada 3 pertanyaan yaitu;
1.Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukan wujud Tuhan kepada saya!
2.Apakah yang dinamakan takdir?
3.Kalau syaitan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api juga, tentu tidak menyakitkan buat syaitan. Sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?

Tiba-tiba kyai tersebut menampar pipi pemuda tadi dengan keras.

Pemuda: (sambil menahan sakit) Kenapa anda menampar, anda marah kepada saya?
Kyai: Saya tidak marah…Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3 pertanyaan yang anda ajukan kepada saya.

Pemuda: Saya sungguh-sungguh tidak mengerti.
Kyai: Bagaimana rasanya tamparan saya?

Pemuda: Tentu saja saya merasakan sakit.
Kyai: Jadi anda percaya bahwa sakit itu ada?

Pemuda: Ya!
Kyai: Tunjukan pada saya wujud sakit itu!

Pemuda: Saya tidak bisa.
Kyai: Itulah jawaban pertanyaan pertama…kita semua merasakan kewujudan Tuhan tanpa mampu melihat wujudNya.

Kyai: Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?
Pemuda: Tidak.

Kyai: Apakah pernah terfikir oleh anda akan menerima tamparan dari saya hari ini?
Pemuda: Tidak.

Kyai: Itulah yang dinamakan takdir.

Kyai: Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?
Pemuda: Kulit.

Kyai: Terbuat dari apa pipi anda?
Pemuda: Kulit.

Kyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?
Pemuda: Sakit.

Kyai: Walaupun syaitan dijadikan dari api dan neraka juga terbuat dari api, jika Tuhan menghendaki maka neraka akan menjadi tempat yang menyakitkan untuk syaitan.

PS: Ilmu merupakan harta abstrak titipan Allah Subhanahu wata’ala kepada seluruh manusia yang akan bertambah bila diamalkan, salah satu pengamalannya Adalah dengan membagi-bagikan ilmu itu kepada yang membutuhkan. Janganlah sombong dengan ilmu yang sedikit, karena jika Allah Subhanahu wata’ala berkehendak ilmu itu akan sirna dalam sekejap, beritahulah ! orang yang tidak tahu





Biar Pada Streessss !!!

6 08 2007

Dibawah ini ada empat ( 4 ) pertanyaan dan satu pertanyaan bonus. Jawablah semua tanpa banyak pikir. Cuma boleh berpikir sedetik, jawab segera. OK?

Ayo cari tahu, seberapa pintar anda… .

Pertanyaan pertama:

Anda ikut berlomba. Anda menyalip orang di posisi nomor dua. Sekarang
posisi anda nomor berapa?

—————————————————————————————————————————————–

Jawaban: Jika anda menjawab Nomor Satu, anda SALAH BESAR! Jika anda
menyalip orang nomor dua, sekarang andalah yang ada di posisi nomor dua!

Jangan ngaco lagi, ya?.
Sekarang jawab pertanyaan kedua, tapi jangan berpikir lebih banyak daripada ketika menjawab pertanyaan pertama tadi, OK ?

Pertanyaan Kedua:
Jika anda menyalip orang di posisi terakhir, sekarang anda di posisi??

—————————————————————————————————————————————-

Jawaban: Jika anda menjawab anda orang kedua dari terakhir, anda SALAH

LAGI? Coba, bagaimana caranya menyalip orang TERAKHIR?
Anda sebetulnya tidak terlalu pintar, ‘ kan ?

Pertanyaan ketiga:
Hitung-hitungan yang pelik! Catatan: kerjakan di pikiran anda saja.
JANGAN gunakan kertas atau pensil atau kalkulator. Cobalah.

Ambil 1000 dan tambahkan 40 padanya. Sekarang tambahkan 1000 lagi. Sekarang tambahkan 30 . ! Tambahkan 1000 lagi. Sekarang tambahkan 20. Sekarang tambahkan 1000 Sekarang tambahkan 10 . Berapa totalnya?

—————————————————————————————————————————————-

Apakah hasilnya 5000 ?

Jawaban yang benar adalah 4100.

Kalau tidak percaya, cek dengan kalkulator!

Hari apes, ‘ kan ? Mungkin di pertanyaan terakhir anda bisa benar……Mungkin.

Pertanyaan keempat:
Ayah Mary punya lima andak: 1. Nana, 2. Nene, 3. Nini, 4. Nono. Siapa nama anak kelima?

—————————————————————————————————————————————-

Apa anda menjawab Nunu?
BUKAN! Tentu saja bukan. Anak kelima namanya Mary. Baca lagi pertanyaannya.

Okay, sekarang ronde bonus:

SEORANG bisu pergi ke toko dan ingin membeli sikat gigi. Dengan menirukan orang menggosok gigi, ia berhasil menyampaikan keinginannya pada penjaga toko dan ia berhasil membeli sikat gigi…Berikutnya, seorang buta masuk ke toko itu dan ingin membeli kacamata hitam, bagaimana DIA menunjukkan keinginannya?

—————————————————————————————————————————————-

Langsung aja ngomong, dia kan gak bisu…

KIRIM TES INI UNTUK MEMBUAT FRUSTASI ORANG-ORANG PINTAR YANG ANDA KENAL!





7 Do Not Do After A Meal

6 08 2007

* Don’t smoke- Experiment from experts proves that smoking a cigarette after meal is comparable to smoking 10 cigarettes (chances of cancer is higher).
Jangan Merokok - Penelitian dari para ahli membuktikan bahwa merokok sebatang rokok setelah makan sama dengan merokok 10 rokok (kemungkinan terserang kanker lebih besar)

* Don’t eat fruits immediatelyImmediately eating fruits after meals will cause stomach to be bloated with air. Therefore take fruit 1-2 hr after meal or 1hr before meal.
Jangan langsung makan buah-buahan – Langsung makan buah-buahan setelah makan akan menyebabkan perut dipenuhi dengan udara. Untuk itu makanlah buah-buahan 1-2 jam setelah makan atau 1 jam sebelum makan

* Don’t drink teaBecause tea leaves contain a high content of acid. This substance will cause the Protein content in the food we consume to be hardened thus difficult to digest.
Jangan minum Teh - karena daun teh mengandung kandungan asam yang tinggi. kandungan ini akan menyebabkan kandungan protein pada makanan yang telah kita konsumsi sulit untuk dicerna.

* Don’t loosen your belt - Loosening the belt after a meal will easily cause the intestine to be twisted & blocked.
Jangan mengendorkan ikat pinggangmu - Mengendorkan ikat pinggang setelah makan akan menyebabkan usus terbelit dan terblokir.

* Don’t bathe - Bathing will cause the increase of blood flow to the hands, legs & body thus the amount of blood around the stomach will therefore decrease. This will weaken the digestive system in our stomach.
Jangan Mandi - Mandi akan menaikan aliran darah ke tangan, kaki dan badan yang menyebabkan jumlah dara sekitar perut akan terus berkurang. Hal ini akan melemahkan system pencernaan di dalam perut kita.

* Don’t walk about – People always say that after a meal walk a hundred steps and you will live till 99. In actual fact this is not true. Walking will cause the digestive system to be unable to absorb the nutrition from the food we intake.
Jangan Berjalan-jalan - Orang-orang sering mengatakan bahwa berjalan beberapa langkah setelah makan akan memperpanjang umur. Pada kenyataannya hal ini tidaklah benar. Berjalan akan menyebabkan system pencernaan tidak mampu menyerab nutrisi dari makanan yang telah kita makan.

* Don’t sleep immediately – The food we intake will not be able to digest properly. Thus will lead to gastric & infection in our intestine.
Jangan langsung tidur – Makanan yang kita makan tidak dapat dicerna secara baik. Hal ini akan menyebabkan usus mengalami kembung dan peradangan.

Dari berbagai sumber





Sudah Lulus Pengen Ngapain ?

6 08 2007

“Sudah lulus pengen ngapain ?” itu merupakan pertanyaan klasik yang sering saya ajukan kepada beberapa teman-teman yang sedang nyusun skripsi, yang sedang menunggu waktu sidang skripsi, atau teman-teman yang sedang menunggu waktu untuk di wisuda. Jawaban yang paling sering saya dengar adalah “Ingin bekerja”, namun ketika pertanyaannya dipertajam menjadi “Ingin bekerja dimana?” maka wajah mereka kebanyakan akan berkerut, berpikir sejenak dan keluar jawaban “Nggak tahu, ngelamar2 dulu kali, kalo gak yah ikutan tes CPNS” , yang pasti pada kondisi seperti itu saya merasakan ada semacam ketidakpastian pada masa depan yang sedang mereka hadapi. Beda halnya bagi teman-teman yang kuliah di Fakultas Kedokteran, yang tentu sudah jelas mereka akan kerja menjadi apa, di mana, gajinya berapa. Atau ada beberapa teman juga memberikan jawaban bahwa mereka akan sekolah lagi, atau jawaban yang cukup mengglitik yaitu nunggu dilamar, tapi jawaban seperti itu jarang sekali saya dengar. Sepertinya banyak diantara mereka yang belum siap menerima kenyataan bahwa mereka bukanlah mahasiswa lagi, mereka ibarat seorang prajurit yang akan pergi ke medan perang namun tidak disertai dengan persenjataan yang lengkap atau perencanaan yang memadai. Walhasil banyak diantara menjadi pengangguran lantaran belum siap untuk ‘Terjun Ke Dunia Nyata’ yang begitu liar, ibarat hutan belantara, lengkap dengan pepohonan, semak-semak, serta binatang buas yang siap memangsa setiap saat.

Ada apa dengan mereka ? Sebenarnya jawaban yang ingin saya dengar adalah jawaban yang benar-benar terstruktur, jawaban yang dipenuhi dengan semangat percaya diri, seperti ” Saya ingin bekerja ditempat anu, kalau tidak diterima saya akan melamar keperusahaan anu, atau mungkin kesebrang pulau keperusahaan anu, kalo gak dapet juga yah saya ingin wirausaha, dengan jualan anu, sumber modalnya sendiri sudah saya persiapkan dari si anu, target marketnya anu, dan saya yakin dalam sekian tahun saya bisa jadi pengusaha sukses dibidang anu” dengan jawaban yang seperti ini setidaknya menunjukkan bahwa mereka adalah individu-individu yang benar-benar siap bersaing didunia nyata, dan bisa bersaing dengan yang lain. Dan sekali lagi sangat sedikit mahasiswa yang menjawab begitu semangatnya seperti itu.

Saya melihat kondisi seperti ini terjadi dikarenakan ketika masih kuliah mereka terlalu disibuki dengan aktifitas kuliah yg begitu padat. 7 s/d 8 mata kuliah persemester sudah cukup membuat mereka ‘lupa’ untuk memikirkan masa depan mereka yang sebenarnya setelah lulus nanti. Jangankan untuk membicarakan masalah kebersihan kampus, atau melakukan kegiatan sosial sebagai pengabdian kepada masyarakat, memikirkan masalah perkuliahan pun tak jarang diantara mereka yang keteteran, apalagi memikirkan kondisi bangsa yang sedang carut marut ini,. Sehingga tidak heran jika organisasi-organisasi kemahasiswaan dikampus, hanya diminati oleh segelintir mahasiswa saja, belum lagi hal ini diperparah dengan sering gontok-gontokan nya antar sesama lembaga kemahasiswaan kampus, sehingga banyak mahasiswa ogah untuk bergabung kedalamnya. Padahal menurut saya organisasi kemahsiswaan di kampus merupakan salah satu wadah untuk pendewasaan diri, guna mempersiapkan pribadi yang ‘tahan banting’, untuk bergelut di dunia nyata.

Saya tidak tahu sampai kapan hal seperti ini akan berlanjut, namun jika hal ini dibiarkan berlarut-larut, pasti akan memberikan dampak yang negatif bagi bangsa ini kelak, jika calon generasi penerus bangsa masih bingung dengan masa depannya sendiri. Saya merasa ada something wrong dengan kurikulum yang sedang kita anut sekarang. Atau mungkin karena individunya yang tidak dapat mengatur waktu ? sayangnya mata kuliah untuk manajemen diri itu bukan merupakan matakuliah umum yang diajarkan disetiap fakultas. Sebenarnya jika kita mau, ketika masih kuliah pun kita bisa memanfaatkan jaringan pertemanan sebagai jaringan bisnis, yang dapat kita kembangkan setelah lulus nantinya. Demikian halnya tentang pencarian informasi-informasi perusahaan yang potensial bagi kita untuk menjadi tempat kita bekerja kelak. Dan ketika kita masih kuliah, kita seharusnya sudah paham betul mengenai tekhnik membuat surat lamaran, curuculum vitae, resume, proposal bisnis, teknik ketika wawancara kerja, teknik bernegosiasi, atau pengetahuan mengenai tata cara pendirian sebuah perusahaan, namun sayang sekali fasilitas pelatihan untuk hal yang seperti ini sangat jarang sekali.

Saya punya impian bahwa setiap mahasiswa tingkat akhir dibina sedemikian rupa dalam sebuah lembaga yang memberikan pelatihan-pelatihan yang komprehensip, yang membuat mereka lebih siap untuk terjun kedunia nyata. Materi pelatihannya cukuplah materi yang sederhana-sederhana saja, seperti teknik membuat surat lamaran kerja, teknik membuat proposal bisnis, cara membuat Perseroan Terbatas, cara mengeksport sebuah komoditi, pelatihan menjahit, pelatihan menyablon, dan pelatihan-pelatihan yang lainnya, yang sekiranya dapat menunjang masa depan mereka kelak. Lembaga ini seperti ‘inkubator bisnis’ , yang dikelola oleh lembaga kemahasiswaan kampus, dibina oleh fakultas, serta disokong penuh oleh jaringan alumni. Para pelatihnya cukuplah dari para alumni yg telah berpengalaman dibidangnya masing-masing. Dan semuanya berjalan dalam semangat kekeluargaan, dan pengabdian almamater tanpa mengurangi profesionalisme. Tapi yaah itu tadi, baru sekedar impian, dan butuh kerja keras dari berbagai pihak untuk mewujudkannya. Ada komentar ?





Bukan Bangsa Jongos

6 08 2007

 

Budiarto Shambazy

Walau cuma sebentar, rasanya nikmat menyaksikan DVD Hindia-Belanda di Perang Dunia Kedua (Institut Dokumentasi Perang Belanda). Tak bosan memelototi lanskap geografis dan historis “mooy Indië” awal 1940-an.

Anda kini mengerti mengapa Ismail Marzuki menulis, “Tempat lahir beta, tempat berlindung di hari tua, tempat akhir menutup mata”. Pantas banyak negara asing atau perusahaan multinasional yang bernafsu menguasai sumber-sumber alam kita dari dulu sampai kini.

Film campuran hitam-putih dan colorization dengan narasi serta musik latar orkestrasi ini terdiri dari tiga keping DVD. Di bagian “Komunitas Kolonial”, sang narator mengawali cerita dengan perjalanan kapal laut dari Amsterdam ke Batavia yang masih dusun kecil.

Trem di Batavia dan “Soerabaia” sepi penumpang dan bersih. Penduduk Indonesia sekitar 70 juta jiwa, 50 juta di antaranya hidup di Jawa.

Di Pasar Baru, Batavia, berseliweran mobil, oplet, sepeda, sado, sampai “noni-noni” Belanda. Sebuah restoran di Simpang Lima, Surabaya, disesaki kelasi Barat yang duduk-duduk di kursi yang rendah sambil menikmati minum dan musik di siang yang panas itu.

Batavia gudang gedung atau monumen bersejarah. Ada De Harmonie yang kini jadi area parkir Istana Merdeka, Des Indes yang dirubuhkan jadi pertokoan, atau Kali Krukut yang picturesque yang tak kalah indah dibandingkan dengan Sungai Spree, Berlin, Jerman.

Kota tua di Honolulu (Amerika Serikat), Den Haag (Belanda), atau Kuala Lumpur (Malaysia) nyaris tak berubah dari abad ke abad. Mereka menjaga kekayaan sejarah dengan pelbagai aturan tata kota yang ketat.

Jakarta tak lagi mempunyai masa lalu karena diurus orang- orang tak becus. Orde Baru melenyapkan De Harmonie dan Des Indes, Orde Reformasi menghancurkan Stadion Menteng.

“Komunitas Kolonial” membawa Anda bertualang ke Yogyakarta, pabrik rokok Faroka di Jawa Timur, dan “teras padi” nan indah di Bali. Tampak aktivitas pemburu buaya di Martapura, Kalimantan, dan senyum renyah Sultan Maluku dan istri.

Saat kereta api menikung di tepi Danau Singkarak, Minangkabau, Anda dikejutkan dengan suara air terjun raksasa. Gaya manortor para tetua Batak pada masa itu membuat siapa pun menyunggingkan senyum.

Pada keping kedua ada judul “Jepang di Komunitas Indonesia” dan “Kehidupan Sehari-hari di Masa Pendudukan”. Isinya, potongan-potongan film propaganda Jepang.

Panglima Armada Laksamana Isoroku Yamamoto memimpin pendaratan di Jawa, April 1943. “Kalian 50 juta rakyat Indonesia! Sekarang saya minta pada kamu supaya insaf sedalam-dalamnya dan berdirilah untuk bersatu,” kata Yamamoto yang menjual dongeng made in Japan tentang “Asia Timur Raya”.

Dan tampillah sang bintang lanskap politik, Bung Karno. Ia dituduh sebagai kolaborator Jepang karena mengikuti perintah “saudara tua” dari Negeri Matahari Terbit itu.

Waktu itu tak ada yang berani melawan pasukan Jepang. Semua dipaksa meneriakkan slogan “tenno haika banzai” (semoga kaisar panjang umur sampai 10.000 tahun) sambil mengangkat kedua lengan tinggi-tinggi seperti orang lagi senam.

Bung Karno menjadi moncong propaganda Jepang. “Karena itu semboyan kita sekarang ini ialah hancurkan kekuatan Amerika, hancurkan kekuatan Inggris. Amerika kita setrika, Inggris kita linggis,” seru Bung Karno sang orator ulung.

Jepang merekrut pemuda-pemuda Indonesia untuk menjadi heiho angkatan laut atau tentara Pembela Tanah Air. Mereka bukan cuma latihan berbaris dan menembak, namun juga melahap sarapan ala bento lengkap dengan sumpit serta wajib mengikuti lomba gulat sumo.

Ada tayangan sekitar sepuluh menit yang diawali dengan pemandangan sekilas di sekitar Situ Lembang, Menteng. Mereka bersepeda atau berjalan kaki, lengkap dengan seragam serta tas punggung menuju ke “Sekolah Rakjat Akebono”.

Mereka sejak kecil sudah menjadi penutur bahasa Indonesia, Belanda, Jepang, dan mungkin bahasa Inggris sekaligus. Tak heran mereka disebut generasi yang terdidik dan berbudaya dibandingkan generasi hasil didikan Depdiknas.

Salah satu judul DVD ketiga “Soekarno dan Kaum Nasionalis”. Tanggal 7 September 1944 Yamamoto mengumumkan “perkenan kemerdekaan kepada Indonesia” yang waktunya disebut “di kemudian hari”.

Esok harinya Bung Karno pidato di depan Yamamoto. “Tetapi kami pun menyerahkan saat kemerdekaan itu kepada yang maha mulia… cepat atau lambatnya saat itu datang tergantung dari besar atau kecilnya usaha kami untuk mendapatkan kecakapan-kecakapan yang perlu buat kemerdekaan…”.

Rakyat berpesta di mana-mana. Refrain lagu Indonesia Raya ternyata juga berbunyi, “Indonesia Raya/Mulia, mulia/Hiduplah Indonesia Raya”.

Ada subjudul “Tawanan Orang Belanda”. Puas menyaksikan tentara-tentara kompeni hidup tanpa air bersih atau tidur tanpa kelambu.

Subjudul “Jepang Menyerah” mendatangkan gumam, “Rasain lu!” Geram mendengar kekejaman mereka selama 3,5 tahun menjajah kita.

Mereka membayar pampasan perang. Belanda kekenyangan selama tiga setengah abad, sempat mau kembali ke sini dengan mendompleng Sekutu, dan juga sempat enggan untuk mengakui Proklamasi 17 Agustus 1945.

Jangan lupa, kita juga sering dijajah bangsa sendiri. Pelajaran terpenting dari DVD Hindia-Belanda di Perang Dunia Kedua ini, jangan mau menjadi jongos yang disetir dari Den Haag, Tokyo, ataupun Washington DC.

Sumber : Kompas.com